A.
Definisi
Stroke haemorargik merupakan perdarahan serebri
dan mungkin perdaarahan subaraknoid.disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah
otak pada daerah otak tertentu. Biasanya
kejadiannya saat melakukan aktifitas atau saat aktif,namun bisa juga
terjadi saat istirahat. Kesadaran klien umumnya menurun.
Stroke hemorargik adalah disfungsi neurologis
fokal yang akut dan disebabkan oleh perdarahan primer substansi otak yang
terjadi secara spontan bukan oleh karena trauma kapitis,disebabkan oleh karena
pecahnya pembuluh arteri,vena,dan kapiler.(Djoenaidi widjaja et.al,1994).
Perdarahan otak dibagi dua,yaitu:
1. Perdarahan Intraserebri (PSI)
Pecahnya pembuluh darah (mikroaneurisma) terutama
karena hipertensi mengakibatkan darah masuk kedalam jaringan otak,membentuk
massa yang menekan jaringan otak dan menimbulkan edema otak. Peningkatan TIK yang terjadi cepat,dapat
mengakibatkan kematian mendadak karena herniasi otak. Perdarahan intraserebri
yang disebabkan hipertensi sering
dijumpai di daerah putamaen,thalamus,pons,dan serebullum.
2. Perdarahan Subarachnoid (PSA)
Perdarahan ini berasal dari pecahnya aneurisma
berry atau AVN. Aneurisma yang pecah ini berasal dari pembuluh darah sirkulasi
Willisi dan cabang-cabangnya yang terdapat diluar parenkim otak. Pecahnya
arteri dan keluarnya ke ruang subaraknoid menyaebabkan TIK meningkat
mendadak,meregangnya struktur peka nyeri,dan vasospasme pembuluh darah serebri
yang berakibat disfungsi otak global (nyeri kepala,penurunan kesadaran) maupun
fokal (hemivarise,gangguan hemisensorik,afasia dan lainnya).
Pecahnya arteri
dan keluarnya darah ke ruang subaraknoid mengakibatkan terjadinya
peningkatanTIK yang mendadak,meregangnya struktur peka nyeri,sehingga timbul
nyeri kepala hebat. Sering pula dijumpai kaku kuduk dan
tanda-tanda rangsangan selaput otak
lainnya. Peningkatan TIK yang mendadak juga mengakibatkan perdarahan
subhialoidnpada retina dan penurunan kesadaran. Perdarahan subaraknoid dapat
mengakibatkan vasospasme pembuluh darah serebri. Vasospasme ini sering kali
terjadi tiga sampai lima hari setelah timbulnya perdarahan,mencapai puncaknya
hari kelima sampai dengan kesembilan ,dan dapat menghilang setelah mimggu kedua
sampai dengan kelima. Timbulnya vasospasme diduga karena interaksi antara
bahan-bahan yang berasal dari darah dan dilepaskan kedalam cairan serebrospinal
dengan pembuluh arteri di ruang subaraknoid. Vasospasme ini dapat mengakibatkan
disfungsi otak global(nyeri kepala,penurunan kesadaran) maupun vocal (hemiparise, gangguan hemisensorik, avasia dan lainnya).
Otak dapat
berfungsi jika kebutuhan O2 dan glukosa otak dapat terpenuhi. Energi yang
dihasilkan didalam sel saraf hamper seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak
tidak mempunyai cadangan O2 sehingga jika ada kerusakan atau kekurangan alian
darah otak walau sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi. Demikian pula
dengan kebutuhan glukosa sebagai bahan baker metabolisme otak tidak boleh
kurang dari 20 mg % karena akan menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak
25% dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh,sehingga bila kadar glukosa plasma
turun sampai 70% akan terjadi gejala disfungsi serebri. Pada saat otak
hipoksia,tubuh berusaha memenuhi O2 melalui proses metabolic anaerob,yang dapat
menyebabkan dilatasi pembuluh darah otak.
(Arif Muttaqin, Asuhan
Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Persyarafan, 2008:237-238).
B.
Etiologi
Beberapa keadaan yang dapat
mengakibatkan stroke adalah:
1. Trombosis Serebri
Trombosis ini terjadi pada pembuluh darah yang mengalami oklusi sehingga
menyebabkan iskemia jaringan otak yang dapat menimbulkan edema dan kongesti di
sekitarnya. Trombosis biasanya terjadi pada orang tua yang sedang tidur atau
bangun tidur. Hal ini dapat terjadi karena penurunan tekanan darah yang dapat
menyebabkan iskemi serebri. Tanda dan gejala neurologist sering kali memburuk
dalam 48 jam setelah terjadinya trombosis. Beberapa keadaan di bawah ini dapat
menyebabkan trombosis otak:
a. Atherosklerosis
Aterosklerosis adalah mengerasnya pembuluh darah serta
berkurangnya kelenturan atau elastisitas dinding pembuluh darah. Manifestasi
aterosklerosis bermacam-macam. Kerusakan dapat terjadi melalui mekanisme
berikut: lumen arteri menyempit dan mengakibatkan berkurangnya aliran
darah,oklusi mendadak pembuluh darah karena terjadi trombosis,merupakan tempat
terbentuknya thrombus,kemudian melepaskan kepingan trombus (embolus)dan dinding
arteri menjadi lemah dan terjadi aneurisma kemudian robek dan terjadi perdarahan.
b. Hiperkoagulasi pada Polisitemia
Darah bertambah kental,peningkatan viskositas/hematokrit meningkat dapat
melambatkan aliran darah serebri.
c. Arteritis (radang pada arteri)
2. Emboli
Emboli serebri merupakan penyumbatan pembuluh darah otak oleh
bekuan darah,lemak dan udara. Pada umumnya emboli berasal dari trombus di
jantung yang terlepas dan menyumbat system arteri serebri. Emboli tersebut
berlangsung cepat dan gejala timbul kurang dari 10-30 detik. Beberapa keadaan
di bawah ini dapat menimbulkan emboli katup-katup jantung yang rusak akibat
penyakit jantung reumatik,infark miokardium,fibrilasi,dan keadaan aritmia
menyebabkan berbagai bentuk pengosongan ventrikel sehingga darah membentuk gumpalan kecil dan sewaktu-waktu kosong sama
sekali mengeluarkan embolus-embolus kecil. Endokarditis bakteri dan non bakteri
menyebabkan terbentuknya gumpalan-gumpalan pada endokardium.
3. Hemoragic
Pedarahan intracranial atau intraserebri
meliputi perdarahan di dalam ruang subaraknoid atau di dalam jaringan otak
sendiri. Perdarahan ini dapat terjadi karena aterosklerosis dan hipertensi. Pecahnya
pembuluh darah otak menyebabkan perembesan darah kedalam parenkim otak yang
dapat mengakibatkan penekanan,pergeseran,dan pemisahan jaringan otak yang
berdekatan,sehingga otak akan membengkak,jaringan otak tertekan sehingga
terjadi infark otak,edema dan mungkin herniasi otak.
4. Hipoksia Umum
Beberapa
penyebab yang berhubungan dengan hipoksia umum adalah:
a.
Hipertensi
yang parah
b.
Henti
jantung paru
c.
Curah
jantung turun akibat aritmia
5. Hipoksia Lokal
Beberapa
penyebab yang berhubungan dengan hipoksia setempat adalah:
a.
Spasme
arteri serebri yang disertai perdarahan subaraknoid
b.
Vasokonstriksi
arteri otak di sertai sakit kepala migren (Arif Muttaqin, Asuhan
Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Persyarafan, 2008: 235-236).
C.
Faktor Risiko
Yang merupakan faktor risiko
terjadinya stroke ini adalah:
1. Hipertensi
Hipertensi merupakan faktor risiko utama. Pengendalian hipertensi adalah kunci untuk mencegah stroke. Hipertensi dapat
disebabkan oleh aterosklerosis atau sebaliknya proses ini dapat mengganggu
aliran darah serebral.
2. Penyakit kardiovaskuler-embolisme serebri
berasal dari jantung,
seperti:
a. Penyakit arteri koronaria
b. Gagal jantung kongestif
c. Hipertrofi ventrikel kiri
d. Abnormalitas irama (khususnya fibrilasi
atrium)
e. Penyakit jantung kongestif
3. Kolesterol tinggi
Kolesterol tubuh yang tinggi
dapat menyebabkan aterosklerosis dan terbentuknya embolus dari lemak.
4. Obesitas
Pada obesitas dapat terjadi
hipertensi dan peningkatan kadar kolesterol sehingga dapat mengakibatkan
gangguan pada pembuluh darah,salah satunya pembuluh darah otak.
5. Peningkatan hematokrit meningkatkan resiko
infark serebri
6. Diabetes Mellitus (DM)
Penderita DM berpotensi mengalami stroke karena
yaitu terjadinya peningkatan viskositas darah sehinngga memperlambat aliran
darah khususnya serebral dan adanya kelainan microvaskuler sehingga berdampak
juga terhadap kelainan yang terjadi pada pembuluh drah serebral.
7. Kontrasepsi Oral
(khususnya disertai
hipertensi,merokok,dan kadar estrogen tinggi).
8. Merokok
9. Penyalahgunaan Obat (khususnya kokain)
10. Penggunaan Alkohol
11. Policitemia
Pada polocitemia viskositas darah meningkat dan aliran darah menjadi lambat
ssehingga perfusi otak menurun (Price, 2006).
A.
Anatomi Dan Fisiologi Sistem Neurobehaviour (Persyarafan)
1. Jaringan Syaraf
Sistem
persyarafan terdiri atas sel syaraf (neuron) dan sel penyokong (neuroglia dan
sel schwann). Kedua jenis sel tersebut demikian erat berkaitan dan terintegrasi
satu sama lain sehingga bersama-sama berfungsi sebagai satu unit.
a. Neuron
Susunan
syaraf pusat manusia terdiri atas sekitar 100 miliar neuron. Neuron adalah suatu sel syaraf dan
merupakan unit anatomi dan fungsional sistem persyarafan.
1) Struktur Neuron
Neuron-neuron dapat mempunyai berbagai bentuk dan ukuran yang berbeda;
salah satunya adalah tipe neuron multipolar yang merupakan jenis yang paling
terdapat di dalam sistem syaraf pusat.
2) Badan Sel
Secara relatif badan sel lebih besar dan mengelilingi nukleus yang di
dalamnya terdapat nukleolus. Di sekelilingnya terdapat perikarion yang berisi
neurofilamen yang berkelompok yang disebut neurofibril. Di luarnya terhubungkan
dengan dendrit dan akson yang memberikan dukungan terhadap proses-proses
fisiologis.
3) Dendrit
Dendrit adalah tonjolan yang menghantarkan informasi menuju badan sel.
Merupakan bagian yang menjulur keluar dari badan sel dan menjalar ke segala
arah. Khususnya di korteks cerebri dan crebellum, dendrit mempunyai
tonjolan-tonjolan kecil bulat, yang disebut tonjolan dendrit. Neuron tertentu
juga mempunyai akson fibrosayang panjang yang berasal dari daerah yang agak tebal
di baan sel, yaitu akson hilok (bukit akson).
4) Akson
Tonjolan tunggal dan panjang yang menghantarkan
informasi keluar dari badan sel disebut akson.
Dendrit dan akson secara kolektif sering disebut
sebagai serabut syaraf atau tonjolan syaraf. Kemampuan untuk menerima,
menyampaikan, dan meneruskan pesan-pesan neural disebabkan sifat khusus membran
sel neuron yang mudah dirangsang dan dapat menghantarkan pesan elektrokimia.
5) Klasifikasi Fungsional
Neuron-neuron juga dikategorikan berdasarkan kelompok fungsionalnya, yang
meliputi:
a) Neuron sensorik
Neuron sensorik berasal dari devisi aferen dari
Sistem Syaraf Tepi (SST). Neuron ini membawa informasi dari reseptor pesan
sensorik untuk dibawa ke Sistem Syaraf Pusat (SSP).
Neuron
sensorik merupakan neuron unipolar atau disebut juga dengan serabut aferen yang
menghubungkan antara reseptor sensorik dan batang otak atau otak. Neuron ini
mengumpulkan informasi dengan memperhatikan lingkungan dalam dan lingkungan
luar tubuh. Tubuh manusia memiliki sekitar 10 juta neuron sensorik. Neuron
sensorik somatis melakukan pengawasan diluar tubuh dan neuron sensorik viseral
memonitor kondisi di luar tubuh.
b) Neuron motorik
Neuron motorik atau neuron eferen membawa instruksi-instruksi dari SSP
menuju efektor perifer. Neuron motorik akan menstimulasi atau
memodifikasiaktivitas dari jaringan-jaringan perifer, organ, atau sistem organ.
Tubuh manusia memiliki sekitar 500.000 neuron motorik. Akson-akson pembawa
pesan dari SSP yang disebut dengan serabut eferen, terdiri dari Sistem Syaraf
Somati (SSS) dan Sistem Syaraf Otonom (SSO).
c) Interneuron
Interneuron atau neuron asosiasiberada diantara neuron sensorik dan
motorik. Interneuron terdapat diseluruh otak dan batang otak. Tubuh manusia
memiliki 20 juta interneuron dan berespons untuk mendistribusikan setiap
informasi dari neuron sensorik dan mengkoordinasikan aktivitas motorik.
a. Neuroglia
Neuroglia
adalah sel penyokong untuk neuron-neuron SSP, sedangkan sel schwann menjalankan
fungsi tersebut dapa SST. Neuroglia menyusun 40% volume otak dan medula
spinalis. Neuroglia jumlahnya lebih banyak dari sel-sel neuron dengan
perbandingan sekitar sepuluh banding satu (10:1)
b. Sel Schwann
Sel schwann
membentuk mielin maupun neurolema syaraf tepi. Membran plasma sel schwann
secara konsentris mengelilingi tonjolan neuron SST.
Mielin
Mielin
merupakan suatu kompleks protein lemak berwarna putih yang mengisolasi tonjolan
syaraf. Mielin menghalangi aliran ion natrium dan kalium melintasi membran
nueral dengan hampir sempurna. Selubung mielin tidak kontinue disepanjang
tonjolan syaraf, dan terdapat celah-celah yang tidak memiliki mielin, yang
disebut nodus ranvier.
c. Neurotransmiter
Neurotransmiter
merupakan zat kimia yang disisntesis dalam neuron dan disimpan dalam gelembung
sinaptik pada ujung akson. Zat kimia ini dilepaskandari akson terminal melalui
eksositosisdan juga direabsorbsi untung daur ulang.
Neurotransmiter
merupakan cara komunikasi antarneuron. Seiap neuron melepaskan satu transmiter.
Zat-zat kimia ini menyebabkan perubahan permeabilitas sel neuron, sehingga
dengan bantuan zat-zat kimia ini, neuron dapat lebih mudah dalam menyalurkan
impuls, tergantung dari jenis neuron dan transmiter tersebut (Ganong, 1999).
1. Otak
Otak
merupakan organ yang paling mengagumkan dari seluruh organ. Kita mengetahiu
bahwa seluruh angan-angan, keinginan dan nafsu, perencanaan dan ingatan
merupakan hasil akhir dari otak.
Otak
manusia berisi hampir 98% jaringan syaraf tubuh atau sekitar 10 miliar neuron
yang menjadi kompleks secara kesatuan fungsional. Kisaran berat otak sekitar
1,4 kg dan mempunyai volume sekitar 1200 cc (71 in.3). (Simon dan
Schuster, 1998).
Otak lebih
kompleks daripada batang otak. Otak manusia kra-kira merupakan 2% dari berat
badan orang dewasa. Otak menerima 15% dari curah jantung, memerlukan sekitar
20% pemakaian oksigen tubuh dan sekitar 400 kilokalori energi setiap harinya.
(Price, 1995).
a. Pelindung Otak
1) Pia Mater
Langsung berhubungan dengan otak dan jaringan spinal, dan mengikuti kontur
struktur eksternal otak dan jaringan spinal. Pia mater merupakan lapisan
vaskular, tempat pembuluh-pembuluh darah berjalan menuju struktur dalam SSP
untuk memberi nutrisi pada jaringan syaraf. Pia mater meluas pada bagian bawah
medulla spinalis, berakhir kira-kira
setinggi bagian bawah L1.
2) Arachniod
Arachnoid merupakan suatu membran fibrosa yang tipis, halus, dan avaskular.
Arachnoid meliputi otak dan medulla spinalis, tetapi tidak mengikuti kontur
luar sepeti pia mater.
3) Dura Mater
Dura mater merupakan suatu jaringan liat, tidak elastis, dan mirip kulit
sapi, yang terdiri atas lapisan-lapisan luar yang disebut duraendosteal dan
bagian dalam yang disebut dura meningeal. Lapisan endosteal membentuk bagian
dalam periosteum tengkorak dan berlanjut sebagai periosteum yang membatasi
kanalis vertebralis medulla spinalis.
b. Cairan Cerebrospinal
Dalam setiap ventrikel terdapat struktur sekresi khusus yang dinamakan
pleksus koroideus. Pleksus koroideus inilah yang menyekresi CSS yang jernih dan
tak berwarna, yang merupakan bantal cairan pelindung disekitar SSP. CSS terdiri
dari air, elektrolit, gas oksigen, karbondioksida yang terlarut, glukosa,
beberapa leukosit (terutama limposit), dan sedikit protein.
(Price, 1995).
Fungsi CSS antara lain:
1) Sebagai alas atau bantalan dari struktur
neuron
2) Sebagai penyangga dari otak.
3) Transpotasi nutrisi, pesan kimia, dan
produk sisa.
c. Ventrikel
Ventrikel merupakan rangkaian dari empat rongga
dalam otak yang saling berhubungan dan
dibatasi oleh ependimal. Ventrikel ketiga terdapat dalam diencepalon. Ventrikel
keempat dalam pons dan medulla oblongata. Ventrike lateral mempunyai hubungan
dengan ventrikel ketiga melalui sepasang foramen-interventrikularis (foramen
monro).
Ventrikel ketiga dan keempat dihubungkan melalui
suatu saluran sempit didalam otak tengah yang dinamakan akueduktus silvius.
Pada ventrikel keempat terdapat tiga lubang sepasang foramen luschka
dilateral dan satu foramen magendie di medialis, yang berlanjut keruang
subarachnoid otak dan medulla spinalis.
(Simon, 2003).
d. Suplai darah
1) Arteri karotis
Arteri karotis interna dan eksterna bercabang dari arteri karotis komunis
kira-kira setinggi kartilago tiroid.
2) Arteri Cerebri
Arteri serebri anterior memberi supli darah pada struktur-struktur seperti
nukleus kaudatus dan putamen basal ganglia, bagian-bagian kapsula interna dan
korpus kallosum, serta bagian-bagian (terutama medial) lobus frontalis dan
parietalis serebri, termasuk korteks somestetik dan korteks motorik. Bila
arteri serebri anterior mengalami sumbatan pada cabang utamanya, maka akan
terjadi hemiplegia kontralateral yang
lebih berat dibagian kaki dibandingkan bagian tangan.
3) Drainase Vena Otak
Aliran vena batang otak dan serebellum berjalan paralel dengan distribusi
pembuluh arterinya. Sebagian besar drainase vena serebrum adalah melalui
vena-vena dalam, yang mengalirkan darah kepleksus vena superfisialis dan
kesinus-sinus dura mater. Akhirnya, sinus-sinus ini mengalirkan darah ke vena jugularis interna pada
dasar tengkorak dan bersatu dengan sirkulasi umum.
e. Cerebrum
Area atau wilayah terbesar dari otak adalah serebrum. Serebrum terdiri dari
hemisfer kanan dan kiri yang dibagi oleh suatu lekuk atau celah dalam yang disebut
fisura longitudinalis mayor. Bagian luar hemisfer serebri terdiri atas
substansia grisea yang disebut sebagai korteks serebri, terletak diatas
substansia alba yang merupakan bagian dalamhemisfer dan disebur pusat medulla.
Kedua hemisfer saling dihubungkan oleh suatu pita serabut lebar yang disebut
korpus kalosum.
f. Corteks Cerebri
1) Lobus Frontalis
Lobus frontalis adalah area dari korteks serebrum
yang terletak didepan sulkus sentralis dan didasar sulkus lateralis. Bagian ini
mengandung daerah-daerah motorik dan pramotorik.
Daerah broca terletak dilobus frontalis dan
mengendalikan ekspresi bicara. Banyak area asosiasi dilobus frontalis menerima
informasi dari seluruh otak dan menggabungkan i formasi-informasi tersebut
menjadi pikiran, rencana, dan perilaku.
2) Lobus Parietalis
Lobus parietalis adalah daerah korteks yang terletak dibelakang sulkus
sentralis, didasar fisura lateralis, dan meluas kebelakang menuju fisura
parieto-oksipitalis. Lobus ini merupakan daerah sensorik primer otak untuk
sensasi peraba dan pendengaran.
3) Lobus Oksipitalis
Lobus oksipitalis adalah lobus posterior korteks serebrum. Lobus ini
terletak disebelah posterior dari lobus parietalis dan didasar fisura
parieto-oksipitalis, yang memisahkannya dari serebellum. Lobus ini adalah pusat
asosiasi visual utama. Lobus ini menerima informasi yang berasal dari retina
mata.
4) Lobus Temporalis
Lobus temporal mencakup bagian korteks cerebrum yang berjalan kebawah dari
fisura lateralis dan kesebelah posterior dari fisura parieto-oksipitalis. Lobus
temporalis adalah area asosiasi primer untuk informasi auditorik dan mencakup
area Wernicke tempat interpretasi bahasa. Lobus ini juga terlihat dalam
interpretasi bau dan penyimpanan ingatan.
a. Cerebellum
Cerebellum terletak di dalam
fossa kranii posterior dan ditutupi oleh dura mater yang menyerupai atap tenda,
yaitu tentorium, yang memisahkannya dari bagian posterior serebrum.
Fungsi utama serebellum
adalah:
1) Mengatur otot-otot postural tubuh.
2) Melakukan program akan gerakan-gerakan pada
keadaan sadar dan bawah sadar.
1. Batang Otak
a. Pons
Pons
berbentuk jembatan serabut-serabut yang menghubungkan kedua hemisfer
serebellum, serta menghubungkan mesencepalon disebelah atas dengan medulla
oblongata dibawah. Pons merupakan mata rantai penghubung yang penting pada
jaras kortikosereberalis yang menyatukan hemisfer serebri dan serebellum.
Bagian bawah pons berperan dalam pengaturan pernafasan. Nukleus syaraf V, VI,
dan VII terdapat disini.
b. Meduls Oblongata
Medulla oblingata merupakan
pusat refleks yang penting untuk jantung, vasokonstriktor, pernafasan, bersin,
batuk, menelan, pengeluaran air liur, dan muntah.
2. Mesencefalon
Mesencepalon (otak tengah) merupakan
bagian pendek dari batang otak yang letaknya diatas pons. Secara fisiologis mesencepalon
mempunyai peran yang penting dalam pengaturan respons-respon tubuh.
3. Diencefalon
a. Talamus
Talamus
terdiri atas 2 struktur ovoid yang besar, masing-masing mempunyai kompleks
nukleus yang saling berhubungan dengan korteks serebri homolateral, serebellum,
dan dengan berbagai kompleks nuklear
subkortikal seperti yang ada dihipotalamus, formasi retikularis batang otak,
basal ganglia, dan mungkin juga substansia
nigra. Talamus merupakan stasiun transmiter yang penting dalam otak dan
juga merupakan pengintegrasi subkortikal yang penting.
b. Hipotalamus
Hipotalamus
terletak dibawah talamus. Hipotalamus berkaitan dengan pengaturan rangsangan
dari sistem susunan syaraf otonom perifer yang menyertai ekspresi tingkah laku
dan emosi.
Fungsi dari hipotalamus adalah:
1) Pengendalian secara tidak sadar dari
kontraksi otot-otot skeletal.
2) Pengendalian fungsi otonom.
3) Koordinasi aktivitas sistem pesyarafan dan
endokrin.
4) Sekresi hormon.
5) Menghasilkan dorongan emosi dan perilaku.
6) Koordinasi antara fungsi otonom dan volunter.
7) Mengatur suhu tubuh.
c. Subtalamus
Subtalamus
merupakan nukleus ekstrapiramidal diencepalonyang penting. Subtalamus mempunyai
hubungan dengan nukleus ruber, substansia nigra, dan globus palidus dari
ganglia basalis. Fungsinya belum jelas diketahui, tetapi lesi pada subtalamus
dapat menimbulkan diskinesia dramatis yang disebut hemibalismus.
d. Epitalamus
Epitalamus
berbentuk pita sempit jaringan syaraf yang membentuk atap diencepalon. Struktur
utama daerah ini adalah nukleus habenular dan komisura, komisura posterior,
striae medularis, dan epifisis.
4. Syaraf Kranial
Ringkasan fungsi syaraf
kranial
|
Syaraf Kranial
|
Komponen
|
Fungsi
|
|
I Olfaktorius
|
Sensorik
|
Penghidu (penciuman)
|
|
II optikus
|
Sensorik
|
Penglihatan
|
|
III okulomotorius
|
Motorik
|
Mengangkat kelopak mata atas
Konstriksi pupil
Sebagian besar gerakan ekstraokular
|
|
IV koklearis
|
Motorik
|
Gerakan mata kebawah dan kedalam
|
|
V trigeminus
|
Motorik
sensorik
|
Otot temporalis dan maseter (menutup rahang dan
menngunyah) gerakan rahang kelateral.
·
Kulit
wajah, duapertiga depan kulit kepala; mukosa mata; mukosa hidung dan rongga
mulut, lidah dan gigi.
·
Refleks
kornea atas refleks mengedip, komponen sensorik dibawa oleh syaraf kranial V,
respons motorik melalui syaraf kranial VII
|
|
VI abdusens
|
Motorik
|
Deviasi mata kelateral
|
|
VII Fasialis
|
Motorik
|
·
Otot-otot
ekspresi wajah termasuk otot dahi, sekeliling mata serta mulut.
·
Lakrimasi
serta salivasi
|
|
VIII cabang vestibularis vestibulokoklearis.
Cabang koklearis
|
Sensorik
Sensorik
|
Keseimbangan
Pendengaran
|
|
IX glosofaringeus
|
Motorik
Sensorik
|
Faring: menelan, refleks muntah
Parotis: salivasi
Faring,
lidah posterior, termasuk rasa pahit
|
|
X Vagus
|
Motorik
Sensorik
|
Faring, laring : menelan, refleks muntah,
fonasi, visera abdomen.
Faring, laring: refleks muntah; visera leher,
thoraks dan abdomen
|
|
XI Asesorius
|
Motorik
|
Otot sternokleidomastoideus dan bagian atas dari
otot trapezius: pergerakan kepala dan bahu.
|
|
XII Hipoglosus
|
Motorik
|
Pergerakan lidah
|
1. Syaraf Spinal
Syaraf
spinal pada manusia dewasa memiliki panjang sekitar 45 cm dan lebar 14 mm. Pada
bagian permukaan dorsal dari syaraf spinal, terdapat alur yang dangkal secara
longitudinal dibagian medial posterior berupa sulkus dan bagian yang dalam
dianterior berupa fisura.
2. syaraf Otonom
a. Sistem Syaraf Otonom Simpatis
1) Ganglia kolateral
Visera
abdominopelvis menerima inervasi simpatis melalui serabut preganglion yang
menerobos rantai simpatis tanpa sinaps. Serabut ini dimulai dari neuron-nuron
preganglion didalam segmen-segmen bawah torakal dan segmen-segmen atas lumbal.
Serabut ini menjalar pada dinding rongga dad dan abdomen serta mengatur keadaan
didalam rongga dada dan abdomen secara otonom.
2) Medula adrenal
Medula
adrenal dipengaruho oleh ganglion simpatis sinaps serabut preganglionik pada
sel-sel neuroendokrin khusus berfungsi untuk melepaskan neurotransmitter
epinefrin dan norepinefrin kedalam sirkulasi umum.
3) Fungsi sistem syaraf otonom simpatis
Fungsi unik
sistem syaraf otonom sispatis adalah sistem ini siap siaga untuk membantu proses
kedaruratan. Dibawah keadaan stress baik yang disebabkan oleh fisik maupun
emosional dapat menyebabkan peningkatan yang cepat pada impuls simpatis. Tubuh mempersiapkan untuk
respons “fight or fligt” jika ada ancaman.
D.
Patofisiologi
Infark serebri adalah berkurangnya suplai darah ke
area tertentu di otak. Luasnya infark bergantung pada faktor-faktor seperti
lokasi dan besarnya pembuluh darah dan adekuatnya sirkulasi kolateral terhadap
area yang disuplai oleh pembuluh darah yang tersumbat.
Suplai darah ke otak dapat berubah (makin lambat
atau cepat )pada gangguan lokal (trombus,emboli,perdarahan,dan spasme
vaskular)atau karena gangguan umum (hipoksia karena gangguan paru dan jantung
). Aterosklerosis sering kali merupakan faktor penting untuk otak,trombus dapat
berasal dari plak aterosklerosis,atau darah dapat beku pada area yang
stenosis,tempat aliran darah akan lambat atau terjadi turbelensi. Trombus dapat
pecah dari dinding pembuluh darah dan terbawa sebagai emboli dalam aliran
darah. Trombus mengakibatkan :
1. Iskemia jaringan otak pada area yang disuplai oleh
pembuluh darah yang bersangkutan.
2. Edema dan kongesti di sekitar area
Area edema ini menyebabkan disfungsi yang lebih besar
dari area infark itu sendiri. Edema dapat berkurang dalam beberapa jam atau
kadang-kadang sesudah beberapa hari. Dengan berkurangnya edema klien mulai
menunjukkan perbaikan.
Karena trombosis biasanya tidak fatal,jika tidak
terjadi perdarahan masif. Oklusi pada pembuluh darah serebri oleh embolus
menyebabkan edema dan nekrosis diikuti trombosis. Jika terjadi infeksi sepsis
akan meluas pada dinding pembuluh darah,maka akan terjadi abses atau
ensefalitis,atau jika sisa infeksi berada pada pembuluh darah yang tersumbat
menyebabkan dilatasi aneurisma pembuluh darah. Hal ini menyebabkan perdarahan
serebri,jika aneurisma pecah atau ruptur.
Perdarahan pada otak lebih disebabkan oleh ruptur
arteriosklerotik dan hipertensi pembuluh darah. Perdarahan intra serebri yang
sangat luas akan menyebabkan kematian diibandingkan dari keseluruhan penyakit
serebrovaskuler,karena perdarahan yang luas terjadi destruksi massa
otak,peningkatan tekanan intrakranial dan yang lebih berat dapat menyebabkan
herniasi otak pada falks serebri atau lewat foramen mágnum.
Kematian dapat disebabkan oleh kompresi batang
otak,hemisfer otak,dan perdarahan batang otak sekunder atau ekstensi perdarahan
ke batang otak. Perembesan darah ke ventrikel otak terjadi pada sepertiga kasus
perdarahan otak di nukleus
kaudatus,talamus,dan pons.
Jika sirkulasi serebri terhambat,dapat berkembang
anoksia serebri. Perubahan disebabkan oleh anoksia serebri dapat reversibel
untuk jangka waktu 4-6 menit. Perubahan irreversibel bila anoksia lebih dari 10
menit. Anoksia serebri dapat terjadi oleh karena gangguan yang bervariasi salah
satunya henti jantung. Selain kerusakan parenkim otak,akibat volum perdarahan
yang relatif banyak akan mengakibatkan peningkatan tekanan intra kranial dan
menyebabkan menurunnya tekanan perfusi otak serta terganggunya drainase otak (Arif Muttaqin, Asuhan Keperawatan Klien
Dengan Gangguan Sistem Persyarafan, 2008:240-242).
Elemen-elemen vasoaktif darah yang keluar serta
kaskade iskemik akibat menurunnya tekanan perfusi,menyebabkan neuron-neuron di
daerah yang terkena darah dan sekitarnya tertekan lagi.jumlah darah yang keluar
menentukan prognosis.apabila volume darah lebih dari 60cc maka resiko kematian
sebesar 93% pada perdarahan dalam dan 71%pada perdarahan lobar. Sedangkan bila
terjadi perdarahan serebral dengan volume antara 30-60 cc diperkirakan
kemungkinan kematian sebesar 75% tetapi volume darah 5 cc dan terdapat di pons
sudah berakibat fatal. (jusuf misbach,1999).
G.
Gambaran Klinis
Gambaran klinis yang sering
terlihat pada klien dengan stroke ini adalah:
1. Mendadak
2. Terjadi saat aktivitas
3. Nyeri kepala
4. Kejang
5. Muntah
6. Kesadaran menurun
7. Koma/kesadaran menurun
8. Kaku kuduk
9. Edema pupil
10. Perdarahan retina
11. Bradikardia
H.
Penatalaksanaan Medis
1. Penatalaksanaan untuk mengobati keadaan
akut.
Untuk
mengobati keadaan akut perlu diperhatikan factor-faktor kritis sebagai berikut
:
a. Berusaha menstabilkan tanda-tanda vital
dengan cara:
1) Mempertahankan saluran nafas yang paten, yaitu sering lakukan pengisapan lendir,
oksigenasi,kalau perlu lakukan trakeostomi,membantu pernafasan.
2) Mengontrol tekanan darah berdasarkan
kondisi klien, termasuk usaha memperbaiki hipootensi dan hipertensi
b. Berusaha menemukan dan memperbaiki aritmia
jantung
c. Merawat kandung kemih, sedapat mungkin jangan menggunakan
kateter.
d. Menempatkan klien dalam posisi yang
tepat,harus dilakukan secepat mungkin.posisi klien harus diubah tiap 2 jam dan
dilakukan latihan-latihan gerak pasif.
2. Protokol penatalaksanaan stroke
haemorargik.
a. Singkirkan
kemungkinan koagulopan: pastikan hasil massa protrombin dan massa
tromboplastin partial adalah normal. Jika massa protrombin memanjang,berikan
plasma beku segar (FFP)4-8 unit intravena setiap 4 jam dan vitamin k 15 mg
intravena bolus. Kemudian 3 kali sehari 15 mg subkutan sampai massa protrombin
normal. Koreksi antikoagulasi heparin dengan protamin sulfat 10-15 mg lambat
bolus (1 mg mengoreksi 100 unit heparin).
b. Kendalikan hipertensi. Berlawanan dengan infark serebri akut,pendekatan
pengendalian tekanan darah yang lebih agresif dilakukan pada pasien dengan
perdarahan intraserebral akut, karena tekanan yang tinggi dapat menyebabkan
perburukan edema serta meningkatkan kemungkinan perdarahan ulang. Tekanan darah
sistolik > 180 mmhg harus diturunkan sampai 150-180 mmHg dengan labetalol
(20 mg intravena dalam 2 menit; ulangi 40-80 mg intravena dalam interval 10 menit sampai tekanan yang
diinginkan,kemudian infus 2 mg/ menit (120 ml/jam)dan dititrasi atau penghambat
ACE (misalnya ; kaptropril 12,5-25 mg , 2-3 kali sehari) atau antagonis kalsium
( misalnya nifedipin oral 4 kali 10 mg).
c. Pertimbangan konsultasi bedah saraf bila :
perdarahan serebelum diameter lebih dari 3 cm atau volum > 50 ml untuk
dekompresi atau pemasangan pintasan ventrikulo-peritoneal bila ada hidrosefalus
obstruktif akut atau kliping aneurisma.
d. Pertimbangan angiografi untuk menyingkirkan aneurisma atau malformasi
arteriovenosa. Pemeriksaan ini dapat dilakukan pada pasien usia muda < 50
tahun yang hipertensi bila tersedia fasilitas.
e. Berikan manitol 20% (1 kg/kg BB,intravena
dalam 20-30 menit ) untuk pasien dengan koma dalam atau tanda-tanda TIK yang
meninggi atau ancaman herniasi. Steroid tidak terbukti efektif pada pada
perdarahan intraserebral. Steroid hanya dipakai pada kondisi ancaman herniasi
trantentorial. Hiperventilasi dapat dilakukan untuk membantu menurunkan TIK.
f. Pertimbangkan fenitoin(20-30 mg/kgBB
intravena,kecepatan maximal 50 mg/menit; atau per oral)paada pasien dengan
perdarahan luas dan derajat kesadaran menurun. Umumnya, antikonvulsan henya
diberikan apabila aktivitas kejang. Namun terapi profilaksis beralasan jika
kondisi pasien cukup kritis dan membutuhkan intubasi, terapi TIK meningkat atau
pembedahan.
g. Pertimbangkan terapi hipervolemik dan
nimodipin untuk mencegah vasospasme bila secara klinis,fungsi lumbal atu CT
scan menunjukkan perdarahan subarachnoid akut primer.
h. Perdarahan intraserebral
1) Obati penyebabnya
2) Turunkan tekanan intrakranial
3) Berikan neuroprotektor
4) Tindakan bedah,dengan pertimbangan usia
dan skala koma Glasgow (>4),hanya dilakukan dengan pasien dengan:
a) perdarahan serebellum dengan diameter
>3cm (kraniotomi dekompresi).
b) Hidrosefalus akut akibat perdarahan
intraventrikel atau serebellum (VP shunting)
c) Perdarahan lobar di atas 60 cc dengan
tanda-tanda peninggian tekanan intrakranial akut dan ancaman herniasi
i.
Perdarahan
subaraknoid
1) Nimodipin dapat diberikan untuk mencegah
vasospasme pada perdarahan subaraknoid primer akut.
2) Tindakan operasi dapat dilakukan pada
perdarahan subaraknoid stadium I dan II akibat pecahnya aneurisma sakular Berry
( clipping) dan adanya komplikasi hidrosepalus obstruktif (VP shunting) (kapita
selekta kedokteran,jilid 2, 2000:22)
I.
Penatalaksanaan Diet
Penatalaksanaan diet stroke antara lain sebagai berikut:
1. Untuk menu sehari-hari usahakan memilih
makanan yang beragam, bergizi, berimbang, dan aman bagi tubuh. Jadi dalam
mengkonsumsi makanan ,hendaknya pasien memilih yang cukup mengandung zat
gizi,beragam(ada nasi atau penggantinya,lauk pauk hewani dan nabati sayur dan
buah),aman ( pilih makanan bersih dan hindari mengkonsumsi makanan yang
mengandung banyak bahan tambahan dan sebaiknya jangan makan terlalu berlebihan
(sangat kenyang)
2. Untuk lauk pauk hewani, sebaiknya pilih
daging atau ikan Yang tidak banyak mengandung lemak
(kolesterol). Demikian juga, penggunaan minyak goreng nabati(pilih minyak
goreng nabati yang rendah lemak atau kolesterol) dan mentega (yang tidak
mengandung lemak trans). Hindari mengkonsumsi produk laut lain yang tercemar
logam berat (Pb, Hg, atau Cu). Tidak
dianjurkan mengkonsumsi daging sapi dan ayam yang berlemak, jeroan (otak, hati, usus, jantung dan sebagainya), susu, keju, eskrim, produk protein hewani yang diawetkan
(daging asap, ham, dendeng, margarin, mentega, santan kental, krim, dan produk gorengan).
3. Kurangi penggunaan garam yang berlebihan
termasuk mengurangi konsumsi makanan yang diawetkan dengan bahan natrium
benzoat. Uasahakan konsumsi garam dapur maksimal 1,5 sendok teh/hari (setara
dengan 5 gr garam dapur)
4. Perbanyak konsumsi makanan yang mengandung
banyak serat(dalam sayur/buah). Sayur atau buah yang bisa dikonsumsi, antara
lain : bayam,kacang-kacangan(kacang kedelai,kacang hijau,kacang merah dan
sebagainya), jamur,bawang,dan avokad.
5. konsumsi air minum yang aman dalam jumlah
yang cukup(sekitar 6-8 gelas sehari). Minuman hendaknya diberikan setelah
selesai makan.
6. pilihlah makanan yang cukup mengandung
vitamin B,vitamin c, dan vitamin E.
Selain mengatur makanan yang dikonsumsi,
dianjurkan pula mengurangi/ menghindari rokok atau minuman beralkohol
seoptimal mungkin. Untuk mencegah agar stroke tidak terulang,manajemen untuk
mengatasi stress juga harus melakukan agar streessor bisa dikurangi meski tidak
bisa dihilangkankan sama sekali.
J.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan
diagnostik yang diperlukan dalam membantu menegakkan diagnosis klien stroke
meliputi:
1. Angiografi Cerebri
Membantu menentukan penyebab dari stroke
secara spesifik seperti perdarahan arteriovena atau adanya ruptur dan untuk
mencari sumber perdarahan seperti aneurima atau malformasi vaskuler.
2. Lumbal Pungsi
Tekanan yang meningkat dan disertai bercak
darah pada cairan lumbal menunjukkan adanya hemorargik pada subaraknoid atau
perdarahan pada intrakranial. Peningkatan jumlah protein menunjukkan adanya
proses inflamasi. Hasil pemeriksaan likuor yang merah biasanya dijumpai pada
perdarahan yang masif,sedangkan perdarahan yang kecil biasanya warna likuor
masih normal (xantokorom) sewaktu hari- hari pertama.
3. CT
Scan
Memperlihatkan secara spesifik letak edema,posisi
hematoma,adanya jaringan otak yang infark atau iskemia,serta posisinya secara
pasti. Hasil pemeriksaan biasanya didapatkan hiperdens fokal,kadang-kadang
masuk ke ventrikel,atau menyebar ke permukaan otak.
4. Magnetik Imaging Resonance (MRI)
Dengan menggunakan gelombang magnetik
untuk menentukan posisi serta besar/luas terjadinya perdarahan otak. Hasil
pemeriksaan biasanya didapatkan area yang mengalami lesi dan infark akibat dari
hemoragic.
5. USG Doppler
Untuk mengidentifikasi adanya penyakit
arteriovena (masalah sistem karotis)
6. EEG
Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat
masalah yangtimbul dan dampak dari jaringan yang infark sehingga menurunnya
impuls listrik dalam jaringan otak.
7. Sinar X Tengkorak
Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah yang berlawanan dari
massa yaang luas,klasifikasi karotis interna terdapat pada trombosis cerebral.
K.
Komplikasi
1. Hipoksia serebral
Hipoksia serebral diminimalkan
dengan memberi oksigenasi darah adekuat ke otak. Fungsi otak bergantung pada ketersediaan oksigen yang dikirimkan ke
jaringan. Pemberian oksigen suplemen dan mempertahankan hemoglobin serta
hematokrit pada tingkat dapat diterima akan membantu dalam mempertahankan
oksigenasi jaringan.
2. Perubahan alira darah serebral
Perubahan aliran darah
serebral bergantung pada tekanan darah, curah jantung, dan
integritas pembuluh darah serebral. Hidrasi adekuat (cairan intravena). Harus menjamin penurunan viskositas dan memperbaiki aliran darah cerebral.
Hipertensi atau hipotensi eksterm perlu dihindari untuk mencegah perubahan pada
aliran darah serebral dan potensi meluasnya area cedera.
3. Embolisme
Embolisme serebral dapat terjadi setelah infark miokard atau fibrilasi
atrium atau dapat berasal dari katup jantung prostetik. Embolisme akan
menurunkan aliran darah ke otak dan selanjutnya menurunkan aliran darah
serebral. Disritmia dapat mengakibatkan curah jantung tidak konsisten dan
penghentikan trombus lokal. Selain
itu,disritmia dapat menyebabkan embolus serebral dan harus diperbaiki.
4. Hidrosefalus
Menandakan adanya
ketidakseimbangan antara pembentukan dan reabsorbsi dari cairan serebrospinal.
5. Disritmia
Batang otak mempengaruhi
frekwensi jantung,sehingga adanya iritasi kimia dapat mengakibatkan
ketidakteraturan ritme jantung.
6. Pneumonia
Akibat gangguan pada pergerakan
menelan, mobilitas dan pengembangan paru, serta batuk yang parah
estela serangan stroke terjadi peradangan di dalam rongga dada.
7. Kerusakan integritas kulit (dekubitus)
Karena penderita stroke
mengalami kelemahan fisik dan kelumpuhan serta kehilangsn perasaanya.
8. Problem kejiwaan
Penderita sering
mengalami depresi dan rendah diri.
L.
Asuhan Keperawatan Teoritis
1.
Pengkajian
Pengkajian keperawatan stroke meliputi anamnesis riwayat
penyakit,pemeriksaan fisik,pemeriksaan diagnostik,dan pengkajian psikososial.
a. Anamnesis
Identitas klien meliputi nama,usia,
(kebanyakan terjadi pada usia tua),jenis
kelamin,pendidikan,alamat,pekerjaan,agama,suku bangsa,tanggal dan jam masuk
rumah sakit,nomor register,dan diagnosis medis.
Keluhan
utama yang sering manjadi alasan klien untik meminta bantuan kesehatan adalah
kelemahan anggota gerak sebelah badan,bicara pelo,tidak dapat berkomunikasi,dan
penurunan tingkat kesadaran.
1) Riwayat Penyakit Saat Ini
Serangan stroke hemorargik sering
kali berlangsung sangat mendadak pada saat klien sedang melakukan aktivitas.
Biasanya terjadi nyeri kepala,mual,muntah,bahkan kejang,sampai tidak sadar
selain gejala kelumpuhan separuh badan atau gangguan fungsi otak yang lain.
2) Riwayat Penyakit Dahulu
Adanya riwayat hipertensi, riwayat stroke
sebelumnya,diabetes mellitus, penyakit
jantung, anemia, riwayat trauma kepala, kontrsepsi oral
yang lama, penggunaan obat antikoagulan ,aspirin, vasodilator, obat-obat adiktif, dan kegemukan. Pengkajian obat-obat yang
sering digunakan klien, seperti pemakaian obat-obat
antihipertensi, antillipidemia, penghambat beta, dan lainnya. Adanya riwayat merokok, penggunaan alkohol dan penggunaan obat kontrasepsi oral. Pengkajian
riwayat ini dapat mendukung pengkajian dari riwayat penyakit sekarang dan
merupakan data dasar untuk mengkaji lebih lanjut dan untuk memberikan tindakan
selanjutnya.
3) Riwayat Penyakit Keluarga
Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi,diabetes
mellitus atau adanya riwayat stroke dari generasi terdahulu.
b. Pemeriksaan Fisik
Setelah melakukan anamnesis yang mengarah pada keluhan-keluhan
klien,pemeriksaan fisik sangat berguna untuk mendukung data dari pengkajiaan
anamnesis. Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan per sistem (B1-B6) dengan
fokus pemeriksaan B3 (Brain) yang terarah dan di hubungkan dengan
keluhan-keluhan dari klien.
1) Keadaan Umum
Umumnya mengalami penurunan kesadaran. Suara bicara kadang mengalami
gangguan,yaitu sukar dimengerti,kadang tidak bisa bicara,dan tanda-tanda vital:
tekanan darah meningkat,denyut nadi bervariasi.
a) B1 (Breathing)
Inspeksi
didapatkan klien batuk,peningkatan produksi sputum,sesak napas,penggunaan otot
bantu napas,dan peningkatan frekuensi pernapasan. Auskultasi bunyi napas
tambahan seperti ronkhi pada klien dengan peningkatan produksi sekret dan
kemampuan batuk yang menurun yamg sering didapatkan pada klien stroke dengan
penurunan tingkat kesadadaran koma.
Pada
klien dengan tingkat kesadaran compos mentis pada pengkajian inspeksi
pernapasan tidak ada kelainan. Palpasi thoraks didapatkan taktil premitus
seimbang kanan dan kiri. Auskultasi tidak didapatkan bunyi napas tambahan.
b) B2 (Blood)
Pengkajian dalam sistem kardiovaskuler didapatkan renjatan
(syok)hipovelemik yang sering terjadi pada klien stroke. TD biasanya terjadi
peningkatan dan bisa terdapat adanya hipertensi masif TD > 200 mmHG.
c) B3 (Brain)
Stroke menyebabkan berbagai defisit neurologis bergantung pada lokasi lesi (penbuluh darah mana yang
tersumbat),ukuran area yang perfusinya tidak adekuat,dan aliran darah kolateral
(sekunder atau asesori). Lesi otak yang rusak tidak dapat membaik
sepenuhnya.pengkajian B3 merupakan pemeriksaan terfokus dan lebih lengkap
dibandingkan pengkajian pada sistem lainnya.
2) Tingkat Kesadaran
Kualitas
kesadaran klien merupakan parameter yang paling mendasar dan paling penting
yanng membutuhkan pengkajian. Tengkat kesadaran klien dan respons terhadap
lingkungan adalah indikator paling sensitif untuk mendeteksi disfungsi sistem
persarafan. Beberapa sistem digunakan untuk membuat peringkat perubahan dalam
kewaspadaan dan kesadaran.
Pada
keadaan lanjut ,tingkat kesadaran klien stroke biasanya berkisar pada tingkat
letargi ,stupor,dan semikomatosa. Apabila klien sudah mengalami koma maka
penilaian GCS sangat penting untuk menilai tingkat kesadaran klien dan bahan evaluasi
untuk pemberian asuhan.
3) Fungsi Serebri
a) Status Mental
Observasi penampilan
klien dan tingkah lakunya , nilai gaya bicara kilen , observasi ekspresi wajah , dan aktivitas motorik dimana pada klien stroke
tahap lanjut biasanya status mental klien mengalami perubahan.
b) Fungsi Intelektual
Didapatkan penurunan
dalam ingatan dan memoro baik jangka pendek maupun jangka panjang. Penurunan
kemampuan berhitung dan kalkulasi. Pada beberapa kasus klen mengalami kerusakan
otak,yaitu kesukaran untuk mangenal persamaan dan perbedaan yang tidak begitu
nyata.
c) Kemampuan Bahasa
Penurunan kemampuan bahasa tergantung dari daerah
lesi yang memengaruhi fungsi daru serebri. Lesi pada daerah hemisfer yang
dominan pada bagian posterior dari girus temporalis superior (area wernicke)
didapatkan disfasia reseptif,yaitu klien tidak dapat memahami bahasa lisan atau
bahasa tertulis. Sedangkan lesi pada bagian pesterior dari girus frontalis
inferior (area Broca) didapatkan disfagia eksprensif di mana klien dapat
mengerti,tetapi tidak dapat menjawab dengan tepat dan bicaranya tidak lancar.
Disatria (kesulitan berbicara) ditunjukkan dengan bicara yang sulit dimengerti
yang disebabkan oleh paralisis otot yang beranggung jawab untuk menghasilkan
bicara. Apraksia (ketidakmampuan untuk melakukan tindakan yang dipelajari
sebelumnya) seperti terlihat ketika
klien mengambil sisir dan berusaha untuk menyisir rambutnya.
d) Lobus Frontal
Kerusakan fungsi kognitif
dan efek psikologis didapatkan bila kerusakan telah terjadi pada lobus frontal
kapasitas,memori, atau fungsi intelektual kortikal yang lebih tinggi mungkin
rusak. Disfungsi ini dapat ditunjukkan dalam lapang perhatian
terbatas,kesulitan dalam pemahaman,lupa, dan kurang motivasi,yang menyebabkan
klien ini menghadapi masalah frustasi dalam program rehabilitasi mereka.
Depresi umum terjadi dan mungkin diperberat oleh respons alamiah klien terhadap
penyakit katastrofik ini. Masalah psikologis lain juga umum terjadi dan
dimanifestasikan oleh labilitas emosional,bermusuhan,frustasi,dendam,dan kurang
kerja sama.
e) Hemisfer
Stroke hemisfer kanan
menyebabkan hemiparese sebelah kiri tubuh,penilaian buruk,dan mempunyai
kerentanan terhadap sisi kolateral sehingga kemungkinan terjatuh ke sisi yang
berlawanan tersebut. Stroke pada hemisfer kiri mengalami hemiparese
kanan,perilaku lambat dan sangat hati-hati,kelainan lapang pandang sebelah
kanan,disfagia global,afasia dan medah frustasi.
4) Pemeriksaan Syaraf Kranial
5) Sistem Motorik
Stroke adalah penyakit motor neuron atas dan mengakibatkan kehilangan
kontrol volunter terhadap gerakan motorik. Karena neuron motor atas
melintas,gangguan kontrol motor volunter pada salah satu sisi tubuh dapat
menunjukkan kerusakan pada neuron motor atas pada sisi yang berlawanan dari
otak.
a) Inspeksi umum ,didapatkan hemiplegia (paralisis
pada salah satu sisi) karena lesi pada sisi otak yang berlawanan. Hemiparesis
atau kelemahan salah satu sisi tubuh adalah tanda yang lain.
b) Fasikulasi didapatkan pada otot-otot
ekstremitas.
c) Tonus otot didapatkan meningkat.
d) Kekuatan otot, pada penilaian dengan menggunakan nilai kekuatan otot pada sisi yang sakit
didapatkan nilai 0.
e) Keseimbangan dan koordinasi,mengalami
gangguan karena hemiparese dan hemiplegia.
c. Pemeriksaan Refleks
Pemeriksaan
refleks dalam, pengetukan pada tendon, ligamentum, atau periosteum derajat refleks pada
respons normal.
Pemeriksaan
refleks patologis,pada fase akut refleks fisiologis sisi yang lumpuh akan menghilang. Setelah beberapa hari refleks fisiologis akan
muncul kembali didahului dengan refleks patologis.
d). B4 (Bladder)
Setelah stoke klien mungkin mengalami inkontinensia urine sementara karena
konfusi,ketidakmampuan mengkomunikasikan kebutuhan,dan ketidakmampuan untuk
menggunakan urinal karena kerusakan kontrol motorik dan postural.kadang-kadang
kontrol sfingter urinarius eksternal hilang atau berkurang. Selama periode
ini,dilakukan keteterisasi intermiten dengan teknik steril. Inkontinensia urine
yang berlanjut menunjukkan kerusakan neurologis luas.
e). B5 (Bowel)
Didapatkan adanya keluhan kesulitan menelan,nafsu makan menurun,mual,dan
muntah pada fase akut. Mual sampai muntah dihubungkan dengan peningkatan
produksi asam lambung sehingga menimbulkan masalah pemenuhan kebutuhan
nutrisi.pola defekasi biasanya terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik
usus. Adanya inkontinensia alvi yang berlanjut menunjukkan kerusakan neurologis
luas.
f). B6 (Bone)
Stroke adalah penyakit neuron atas dan mengakibatkan kehilangan kontrol
volunter terhadap gerakan motorik.karena neuron motor atas melintas,gangguan
kontrol motor volunter pada salah satu sisi tubuh dapat menunjukkan kerusakan
pada neuron motor atas pada sisi yang berlawanan dari otak. Disfungsi motor
paling umum adalah hemiplegia (paralisis pada salah satu sisi ) karena lesi
pada sisi otak yang berlawanan. Hemiparesis, atau kelemahan salah satu sisi
tubuh adalah tanda yang lain. Pada kulit, jika klien kekurangan O2 kulit akan
tampak pucat dan jika kekurangan cairan maka turgor kulit akan jelek. Di
samping itu perlu juga dikaji tanda-tanda dekubitus,terutama pada daerah yang
menonjol karena klien stroke mengalami masalah mobilitis fisik. Adanya
kesukaran untuk beraktivitas karena kelemahan,kehilangan sensorik,atau
paralisis/hemiplegia,mudah lelah menyebabkan masalah pada pola aktivitas dan
istirahat.
(Arif Muttaqin, Askep keperawatan gangguan persarafan,2008:248 )
2.
Diagnosa
Keperawatan
a. Risiko peningkatan TIK berhubungan dengan peningkatan
volume intrakranial,penekanan jaringan otak,dan edema serebri.
b. Perubahan perfusi jaringan otak
berhubungan dengan perdarahan intraserebri,oklusi otak, vasospasme dan edema
otak.
c. Hambatan mobillitas fisik berhubungan
dengan hemiparese/hemiplagia, kelemahan neuromaskular
pada ekstremitas.
d. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring yang lama.
e. Gangguan eliminasi alvi (konstipasi)
berhubungan dengan imobilisasi asupan cairan yang tidak adekuat.
f. Gangguan eliminasi urine (inkontinensia
uri) berhubungan dengan lesi pada neuron motor atas
3.
Rencana
Asuhan Keperawatan Teoritis
a. Diagnosa Keperawatan 1
1) Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 3 x 24 jam diharapakan
tidak terjadi peningkatan TIK pada klien.
2) Kriteria Hasil
a) Klien tidak gelisah
b) Klien tidak mengeluh nyeri kepala
c) Klien tidak mengeluh mual dan muntah
d) Terjadi peningkatan pada Tingkat kesadaran
e) Tidak terdapat papiledema.
f) TTV dalam batas normal
3) Intervensi
Mandiri
a) Kaji faktor penyebab dari
situasi/keadaan individu/penyebab koma/penurunan perfusi jaringan dan
kemungkinan penyebab peningkatan TIK.
Rasional:
Deteksi dini untuk memprioritaskan intervensi,mengkaji status
neurologis / tanda-tanda kegagalan untuk
menentukan perawatan kegawatan atau tindakan pembedahan
b) Memonitor TTV tiap 4 jam
Rasional:
Suatu keadaan normal bila sirkulasi serebri terpelihara dengan
baik,penurunan dari otoregulator kebanyakan merupakan tanda penurunan difusi
lokal vaskularisasi darah serebri.
c) Evaluasi pupil
Rasional:
Reaksi pupil dan pergerakan kembali dari bola mata merupakan tanda dari
gangguan saraf jika batang otak terkoyak. Keseimbangan saraf antara simpatis dan
parasimpatis merupakan respons reflek saraf kranial.
d) Monitor temperatur dan pengaturan suhu
lingkungan
Rasional:
Panas merupakan refleks dari hipotalamus. Peningkatan kebutuhan metabolisme
an O2 akan menunjang
peningkatan TIK.
e) Pertahankan kepala atau leher pada posisi
netral, usahakan dengan sedikit bantal. Hindari penggunaan
bantal yang tinggi pada kepala.
Rasional:
Perubahan kepala pada satu sisi dapat menimbulkan penekanan pada vena
jugularis dan menghambat aliran darah otak (menghambat drainase pada vena
serebri) sehingga dapat meningkatkan TIK.
f) Kaji peningkatan istirahat dan tingkah
laku pada pagi hari
Tingkah nonverbal ini dapat merupakan indikasi penignkatan tekanan
intrakranial atau memberikan refleks nyeri diman klien tidak mampu
mengungkapkan keluhan secara verbal, nyeri yang tidak menurun dapat
meningkatkan TIK.
g) Observasi tingkat kesadaran dengan GCS.
Rasional:
Perubahan kesadaran menunjukkan peningkatan TIK dan berguna menentukan
lokasi dan perkembangan penyakit.
Kolaborasi
a) Pemberian O2 sesuai indikasi
Rasional:
Mengurangi hipoksemia ,dimana dapat meningkatkan vasodilatasi serebri dan
volume darah dan menaikkan TIK.
b) Berikan cairan intravena sesuai dengan
yang di indikasikan.
Rasional:
Pemberian cairan mungkin diinginkan untuk menurunkan edema
serebri,peniingkatan minimum pada pembuluh darah,tekanan darah dan TIK.
c) Berikan steroid seperti dexametason,metil
prednisolon.
Rasional:
Untuk menurunkan implamasi (radang) dan mengurangi edema jaringn.
d) Beri obat osmotik diuretik seperti
manitol, furosid.
e) Rasional:
Diuretik mungkin digunakan pada fase akut untuk mengalirkan air dari
sel-sel otak, dan mengurangi edema serebri dan TIK.
f) Beri analgesik narkotik seperti kodein
Rasional:
Mungkin diindikasikan untuk mengurangi nyeri dan obat ini berefek negatif
pada TIK tetapi dapat digunakan dengan tujuan untuk mencegah da menurunkan
sensasi nyeri.
g) Berikan sedatif seperti diazepam, benadril
Rasional:
Mungkin digunakan untuk mengontrol kurangnya istirahat dan agitasi.
h) Antihipertensi
Rasional:
Digunakan pada hipertensi kronis, karena manajemen secara berlebihan akan
meningkatkan perluasan kerusakan jaringan.
i)
Monitor
hasil laboratorium sesuai dengan indikasi seperti protrombin, LED
Rasional:
Membantu memberikan informasi tentang efektivitas pemberian obat.
b. Diagnosa Keperawatan 2
Perubahan perfusi jaringan otak berhubungan dengan perdarahan
intraserebri,oklusi otak, vasospasme dan edema otak.
1) Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan dalam waktu 2 x 24 jam
perfusi jaringan otak akan tercapai secara optimal.
2) Kriteria Hasil
a) Tidak ada keluhan nyeri kepala
b) Klien tidak gelisah
c) Klien tidak mual dan kejang
d) Terjadi peningkatan pada tingkat kesadaran
e) Pupil isokor
f) Reflek cahaya positif
g) TTV normal
3) Intervensi
Mandiri
a) Baringkan klien (tirah baring )total
dengan posisi tidur telentang tanpa bantal
Rasional:
Perubahan padaTIK akan dapat menyebabkan resiko terjadinya herniasi otak
b) Monitor tanda- tanda status neurologis
dengan GCS
Rasional:
Dapat mengurangi kerusakan otak lebih lanjut
c) Monitor tanda-tanda vital
Rasional:
Pada keadaan normal otoregulasi mempertahankan keadaan tekanan darah
sistemik berubah secara fluktuasi. Kegagalan otoreguler akan menyebabkan
kerusakan vaskuler serebri yang dapat dimanifestasikan dengan peningkatan
sistolik diikuti oleh penurunan tekanan diastolik,sedangkan peningkatan suhu
dapat menggambarkan perjalanan infeksi
d) Monitor asupan dan pengeluaran.
Rasional:
Hipertermi dapat menyebabkan peningkatan IWL dan meningkatkan resiko
dehidrasi terutama pada klien yang tidak sadar,mual yang menurunkan asupan per
oral.
e) Anjurkan klien untuk menghindari batuk dan
mengejan berlebihan.
Rasional:
Batuk dan mengejan dapat meningkatkan TIK dan potensi terjadi perdarahan
ulang.
Kolaborasi
a) Berikan cairan per infus dengan perhatian ketat.
Rasional:
Meminimalkan fluktuasi pada beban vaskuler dan TIK,retrisi cairan ,dan
cairan dapat menurunkan edema serebri.
b) Monitor AGD bila diperlukan pemberian
oksigen.
Rasional:
Adanya kemungkinan asidosis desertai dengan pelepasan oksigen pada tingkat
sel dapat menyebabkan terjadinya iskemia serebri.
c) Berikan terapi sesuai instruksi dokter
seperti steroid, aminofen,
dan antibiotik.
Rasional:
Tujuan terapi adalah: menurukan permeabilitas kapiler,menurunkan edema
serebri,menurunkan metabolik/konsumsi sel dan kejang.
c. Diagnosa Keperawatan 4
Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan
hemiparese/hemiplagia neuromuskular pada extremitas.
1) Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan di harapkan dalam waktu 2 x 24 jam klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai
dengan kemampuannya
2) Kriteria Hasil
a) Klien dapat ikut serta dalam
program latihan
b) Tidak terjadi kontraktur sendi
c) Meningkatkannya kekuatan otot
d) Kien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas
Intervensi
Mandiri
a)
Kaji mobilitas yang ada dan observasi terhadap
peningkatan kerusakan. Kaji secara
teratur fungsi motorik.
Rasional:
Mengetahui tingkat kemampuan klien dalam
melakukan aktivitas
b)
Ubah posisi klien tiap 2 jam.
Rasional:
Menurunkan resiko terjadinya iskemia jaringan akibat
sirkulasi darah yang jelek pada daerah yang tertekan.
c)
Ajarkan klien utuk melakukan latihan gerak pada extremitas yang tidak sakit.
Rasional:
Gerakan aktif memberikan massa,tonus kekuatan
otot,serta memperbaiki fungsi jantung dan pernafasan.
d)
Bantu klien melakukan latihan ROM, perawatan diri
sesuai toleransi
Rasional:
Untuk memelihara fleksibilitas sendi sesuai
kemampuan
Kolaborasi
Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan
fisik klien
Rasional:
Peningkatan kemampuan dalam mobilisasi ektremitas
dapat ditingkatkan dengan latihan fisik dari tiem fisioterapis.
d. Diagnosa Keperawatan 7
Gangguan eliminasi alvi ( konstifasi ) berhubungan dengan imobilisasi, asupan cairan yang tidak
adekuat.
1) Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan dalam waktu 2 x 24 jam
pemenuhan eliminasi alvi terpenuhi.
Kriteria Hasil
a) Klien dapat terdefekasi secara spontan dan
lancar tanpa menggunakan obat,
b) Konsistensi feses lembek berbentuk,
c) Tidak teraba massa pada kolon ( scibala ),
d) Bising usus dalam batas normal ( 15 – 30 x per menit )
2) Intervensi
Mandiri
a) Auskultasi pada bising usus.
Rasional:
Bising usus menandakan sifat aktivitas peristaltik.
b) Anjurkan pada klien untuk makan makanan
yang mengandung serat.
Rasional:
Diet seimbang tinggi kandungan serat merangsang peristalti dan eliminasi
regular
c) Bila klien mampu minum berikan asupan
cairan yang cukup ( 2 liter per hari ) jika tidak ada kontraindikasi
Rasional:
Masukkan cairan adekuat membantu mempertahankan konsistensi feses yang
sesuai pada usus dan membantu eliminasi regular.
d) Lakukan mobilisasi sesuai dengan keadaan
klien.
Aktifitas fisik regular membantu eliminasi dengan memperbaiki tonus otot
abdomen dan merangsang dan membantu merangsang nafsu makan dan feristaltik.
Kolaborasi
Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian pelunak feses ( laksatif,
supositoria, enema )
Rasional:
Pelunak feses meningkatkan efisiensi pembahasan air usus, yang melunakkan
massa feses dan membantu eliminasi.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar