Kamis, 07 Juni 2018

ASUHAN KEPERAWATAN STROKE HEMORAGIC


A.    Definisi
Stroke haemorargik merupakan perdarahan serebri dan mungkin perdaarahan subaraknoid.disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada daerah otak tertentu. Biasanya  kejadiannya saat melakukan aktifitas atau saat aktif,namun bisa juga terjadi saat istirahat. Kesadaran klien umumnya menurun.
Stroke hemorargik adalah disfungsi neurologis fokal yang akut dan disebabkan oleh perdarahan primer substansi otak yang terjadi secara spontan bukan oleh karena trauma kapitis,disebabkan oleh karena pecahnya pembuluh arteri,vena,dan kapiler.(Djoenaidi widjaja et.al,1994).
Perdarahan otak dibagi dua,yaitu:
1.      Perdarahan Intraserebri (PSI)
Pecahnya pembuluh darah (mikroaneurisma) terutama karena hipertensi mengakibatkan darah masuk kedalam jaringan otak,membentuk massa yang menekan jaringan otak dan menimbulkan edema otak. Peningkatan TIK yang terjadi cepat,dapat mengakibatkan kematian mendadak karena herniasi otak. Perdarahan intraserebri yang disebabkan  hipertensi sering dijumpai di daerah putamaen,thalamus,pons,dan serebullum.
2.      Perdarahan Subarachnoid (PSA)
Perdarahan ini berasal dari pecahnya aneurisma berry atau AVN. Aneurisma yang pecah ini berasal dari pembuluh darah sirkulasi Willisi dan cabang-cabangnya yang terdapat diluar parenkim otak. Pecahnya arteri dan keluarnya ke ruang subaraknoid menyaebabkan TIK meningkat mendadak,meregangnya struktur peka nyeri,dan vasospasme pembuluh darah serebri yang berakibat disfungsi otak global (nyeri kepala,penurunan kesadaran) maupun fokal (hemivarise,gangguan hemisensorik,afasia dan lainnya).
Pecahnya arteri dan keluarnya darah ke ruang subaraknoid mengakibatkan terjadinya peningkatanTIK yang mendadak,meregangnya struktur peka nyeri,sehingga timbul nyeri kepala hebat. Sering pula dijumpai kaku kuduk dan
tanda-tanda rangsangan selaput otak lainnya. Peningkatan TIK yang mendadak juga mengakibatkan perdarahan subhialoidnpada retina dan penurunan kesadaran. Perdarahan subaraknoid dapat mengakibatkan vasospasme pembuluh darah serebri. Vasospasme ini sering kali terjadi tiga sampai lima hari setelah timbulnya perdarahan,mencapai puncaknya hari kelima sampai dengan kesembilan ,dan dapat menghilang setelah mimggu kedua sampai dengan kelima. Timbulnya vasospasme diduga karena interaksi antara bahan-bahan yang berasal dari darah dan dilepaskan kedalam cairan serebrospinal dengan pembuluh arteri di ruang subaraknoid. Vasospasme ini dapat mengakibatkan disfungsi otak global(nyeri kepala,penurunan kesadaran) maupun vocal (hemiparise, gangguan hemisensorik, avasia dan lainnya).
Otak dapat berfungsi jika kebutuhan O2 dan glukosa otak dapat terpenuhi. Energi yang dihasilkan didalam sel saraf hamper seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak tidak mempunyai cadangan O2 sehingga jika ada kerusakan atau kekurangan alian darah otak walau sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan glukosa sebagai bahan baker metabolisme otak tidak boleh kurang dari 20 mg % karena akan menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25% dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh,sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai 70% akan terjadi gejala disfungsi serebri. Pada saat otak hipoksia,tubuh berusaha memenuhi O2 melalui proses metabolic anaerob,yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah otak.
(Arif Muttaqin, Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Persyarafan, 2008:237-238).

B.     Etiologi
Beberapa keadaan yang dapat mengakibatkan stroke adalah:
1.      Trombosis Serebri
Trombosis ini terjadi pada pembuluh darah yang mengalami oklusi sehingga menyebabkan iskemia jaringan otak yang dapat menimbulkan edema dan kongesti di sekitarnya. Trombosis biasanya terjadi pada orang tua yang sedang tidur atau bangun tidur. Hal ini dapat terjadi karena penurunan tekanan darah yang dapat menyebabkan iskemi serebri. Tanda dan gejala neurologist sering kali memburuk dalam 48 jam setelah terjadinya trombosis. Beberapa keadaan di bawah ini dapat menyebabkan trombosis otak:
a.       Atherosklerosis
Aterosklerosis adalah mengerasnya pembuluh darah serta berkurangnya kelenturan atau elastisitas dinding pembuluh darah. Manifestasi aterosklerosis bermacam-macam. Kerusakan dapat terjadi melalui mekanisme berikut: lumen arteri menyempit dan mengakibatkan berkurangnya aliran darah,oklusi mendadak pembuluh darah karena terjadi trombosis,merupakan tempat terbentuknya thrombus,kemudian melepaskan kepingan trombus (embolus)dan dinding arteri menjadi lemah dan terjadi aneurisma kemudian robek dan terjadi perdarahan.
b.      Hiperkoagulasi pada Polisitemia
Darah bertambah kental,peningkatan viskositas/hematokrit meningkat dapat melambatkan aliran darah serebri.
c.       Arteritis (radang pada arteri)
2.      Emboli
Emboli serebri merupakan penyumbatan pembuluh darah otak oleh bekuan darah,lemak dan udara. Pada umumnya emboli berasal dari trombus di jantung yang terlepas dan menyumbat system arteri serebri. Emboli tersebut berlangsung cepat dan gejala timbul kurang dari 10-30 detik. Beberapa keadaan di bawah ini dapat menimbulkan emboli katup-katup jantung yang rusak akibat penyakit jantung reumatik,infark miokardium,fibrilasi,dan keadaan aritmia menyebabkan berbagai bentuk pengosongan ventrikel sehingga darah membentuk  gumpalan kecil dan sewaktu-waktu kosong sama sekali mengeluarkan embolus-embolus kecil. Endokarditis bakteri dan non bakteri menyebabkan terbentuknya gumpalan-gumpalan pada endokardium.
3.      Hemoragic
Pedarahan intracranial atau intraserebri meliputi perdarahan di dalam ruang subaraknoid atau di dalam jaringan otak sendiri. Perdarahan ini dapat terjadi karena aterosklerosis dan hipertensi. Pecahnya pembuluh darah otak menyebabkan perembesan darah kedalam parenkim otak yang dapat mengakibatkan penekanan,pergeseran,dan pemisahan jaringan otak yang berdekatan,sehingga otak akan membengkak,jaringan otak tertekan sehingga terjadi infark otak,edema dan mungkin herniasi otak.
4.      Hipoksia Umum
Beberapa penyebab yang berhubungan dengan hipoksia umum adalah:
a.        Hipertensi yang parah
b.        Henti jantung paru
c.        Curah jantung turun akibat aritmia
5.      Hipoksia Lokal
Beberapa penyebab yang berhubungan dengan hipoksia setempat adalah:
a.          Spasme arteri serebri yang disertai perdarahan subaraknoid
b.          Vasokonstriksi arteri otak di sertai sakit kepala migren (Arif Muttaqin, Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Persyarafan, 2008: 235-236).

C.    Faktor Risiko
Yang merupakan faktor risiko terjadinya stroke ini adalah:
1.      Hipertensi
Hipertensi merupakan faktor risiko utama. Pengendalian hipertensi    adalah kunci untuk     mencegah stroke. Hipertensi dapat disebabkan oleh aterosklerosis atau sebaliknya proses ini dapat mengganggu aliran darah serebral.
2.      Penyakit kardiovaskuler-embolisme serebri berasal dari jantung, seperti:
a.       Penyakit arteri koronaria
b.      Gagal jantung kongestif
c.       Hipertrofi ventrikel kiri
d.      Abnormalitas irama (khususnya fibrilasi atrium)
e.       Penyakit jantung kongestif
3.      Kolesterol tinggi
Kolesterol tubuh yang tinggi dapat menyebabkan aterosklerosis dan terbentuknya embolus dari lemak.
4.      Obesitas
Pada obesitas dapat terjadi hipertensi dan peningkatan kadar kolesterol sehingga dapat mengakibatkan gangguan pada pembuluh darah,salah satunya pembuluh darah otak.
5.      Peningkatan hematokrit meningkatkan resiko infark serebri
6.       Diabetes Mellitus (DM)
Penderita DM berpotensi mengalami stroke karena yaitu terjadinya peningkatan viskositas darah sehinngga memperlambat aliran darah khususnya serebral dan adanya kelainan microvaskuler sehingga berdampak juga terhadap kelainan yang terjadi pada pembuluh drah serebral. 
7.      Kontrasepsi Oral
(khususnya disertai hipertensi,merokok,dan kadar estrogen tinggi).
8.      Merokok
9.      Penyalahgunaan Obat (khususnya kokain)
10.  Penggunaan Alkohol
11.  Policitemia
Pada polocitemia viskositas darah meningkat dan aliran darah menjadi lambat ssehingga perfusi otak menurun (Price, 2006).

 ANATOMI FISIOLOGI
A.    Anatomi Dan Fisiologi Sistem Neurobehaviour (Persyarafan)

1.      Jaringan Syaraf
Sistem persyarafan terdiri atas sel syaraf (neuron) dan sel penyokong (neuroglia dan sel schwann). Kedua jenis sel tersebut demikian erat berkaitan dan terintegrasi satu sama lain sehingga bersama-sama berfungsi sebagai satu unit.
a.       Neuron
Susunan syaraf pusat manusia terdiri atas sekitar 100 miliar neuron. Neuron adalah suatu sel syaraf dan merupakan unit anatomi dan fungsional sistem persyarafan.



1)      Struktur Neuron
Neuron-neuron dapat mempunyai berbagai bentuk dan ukuran yang berbeda; salah satunya adalah tipe neuron multipolar yang merupakan jenis yang paling terdapat di dalam sistem syaraf pusat.
2)      Badan Sel
Secara relatif badan sel lebih besar dan mengelilingi nukleus yang di dalamnya terdapat nukleolus. Di sekelilingnya terdapat perikarion yang berisi neurofilamen yang berkelompok yang disebut neurofibril. Di luarnya terhubungkan dengan dendrit dan akson yang memberikan dukungan terhadap proses-proses fisiologis.
3)      Dendrit
Dendrit adalah tonjolan yang menghantarkan informasi menuju badan sel. Merupakan bagian yang menjulur keluar dari badan sel dan menjalar ke segala arah. Khususnya di korteks cerebri dan crebellum, dendrit mempunyai tonjolan-tonjolan kecil bulat, yang disebut tonjolan dendrit. Neuron tertentu juga mempunyai akson fibrosayang panjang yang berasal dari daerah yang agak tebal di baan sel, yaitu akson hilok (bukit akson).
4)      Akson
Tonjolan tunggal dan panjang yang menghantarkan informasi keluar dari badan sel disebut akson.
Dendrit dan akson secara kolektif sering disebut sebagai serabut syaraf atau tonjolan syaraf. Kemampuan untuk menerima, menyampaikan, dan meneruskan pesan-pesan neural disebabkan sifat khusus membran sel neuron yang mudah dirangsang dan dapat menghantarkan pesan elektrokimia.
5)      Klasifikasi Fungsional
Neuron-neuron juga dikategorikan berdasarkan kelompok fungsionalnya, yang meliputi:
a)      Neuron sensorik
Neuron sensorik berasal dari devisi aferen dari Sistem Syaraf Tepi (SST). Neuron ini membawa informasi dari reseptor pesan sensorik untuk dibawa ke Sistem Syaraf Pusat (SSP).
            Neuron sensorik merupakan neuron unipolar atau disebut juga dengan serabut aferen yang menghubungkan antara reseptor sensorik dan batang otak atau otak. Neuron ini mengumpulkan informasi dengan memperhatikan lingkungan dalam dan lingkungan luar tubuh. Tubuh manusia memiliki sekitar 10 juta neuron sensorik. Neuron sensorik somatis melakukan pengawasan diluar tubuh dan neuron sensorik viseral memonitor kondisi di luar tubuh.
b)      Neuron motorik
Neuron motorik atau neuron eferen membawa instruksi-instruksi dari SSP menuju efektor perifer. Neuron motorik akan menstimulasi atau memodifikasiaktivitas dari jaringan-jaringan perifer, organ, atau sistem organ. Tubuh manusia memiliki sekitar 500.000 neuron motorik. Akson-akson pembawa pesan dari SSP yang disebut dengan serabut eferen, terdiri dari Sistem Syaraf Somati (SSS) dan Sistem Syaraf Otonom (SSO).
c)      Interneuron
Interneuron atau neuron asosiasiberada diantara neuron sensorik dan motorik. Interneuron terdapat diseluruh otak dan batang otak. Tubuh manusia memiliki 20 juta interneuron dan berespons untuk mendistribusikan setiap informasi dari neuron sensorik dan mengkoordinasikan aktivitas motorik.  
a.       Neuroglia
Neuroglia adalah sel penyokong untuk neuron-neuron SSP, sedangkan sel schwann menjalankan fungsi tersebut dapa SST. Neuroglia menyusun 40% volume otak dan medula spinalis. Neuroglia jumlahnya lebih banyak dari sel-sel neuron dengan perbandingan sekitar sepuluh banding satu (10:1)
b.      Sel Schwann
Sel schwann membentuk mielin maupun neurolema syaraf tepi. Membran plasma sel schwann secara konsentris mengelilingi tonjolan neuron SST.
Mielin
Mielin merupakan suatu kompleks protein lemak berwarna putih yang mengisolasi tonjolan syaraf. Mielin menghalangi aliran ion natrium dan kalium melintasi membran nueral dengan hampir sempurna. Selubung mielin tidak kontinue disepanjang tonjolan syaraf, dan terdapat celah-celah yang tidak memiliki mielin, yang disebut nodus ranvier.
c.       Neurotransmiter
Neurotransmiter merupakan zat kimia yang disisntesis dalam neuron dan disimpan dalam gelembung sinaptik pada ujung akson. Zat kimia ini dilepaskandari akson terminal melalui eksositosisdan juga direabsorbsi untung daur ulang.
Neurotransmiter merupakan cara komunikasi antarneuron. Seiap neuron melepaskan satu transmiter. Zat-zat kimia ini menyebabkan perubahan permeabilitas sel neuron, sehingga dengan bantuan zat-zat kimia ini, neuron dapat lebih mudah dalam menyalurkan impuls, tergantung dari jenis neuron dan transmiter tersebut (Ganong, 1999).  
1.      Otak
Otak merupakan organ yang paling mengagumkan dari seluruh organ. Kita mengetahiu bahwa seluruh angan-angan, keinginan dan nafsu, perencanaan dan ingatan merupakan hasil akhir dari otak.
Otak manusia berisi hampir 98% jaringan syaraf tubuh atau sekitar 10 miliar neuron yang menjadi kompleks secara kesatuan fungsional. Kisaran berat otak sekitar 1,4 kg dan mempunyai volume sekitar 1200 cc (71 in.3). (Simon dan Schuster, 1998).
Otak lebih kompleks daripada batang otak. Otak manusia kra-kira merupakan 2% dari berat badan orang dewasa. Otak menerima 15% dari curah jantung, memerlukan sekitar 20% pemakaian oksigen tubuh dan sekitar 400 kilokalori energi setiap harinya.
(Price, 1995).  


a.       Pelindung Otak
1)      Pia Mater
Langsung berhubungan dengan otak dan jaringan spinal, dan mengikuti kontur struktur eksternal otak dan jaringan spinal. Pia mater merupakan lapisan vaskular, tempat pembuluh-pembuluh darah berjalan menuju struktur dalam SSP untuk memberi nutrisi pada jaringan syaraf. Pia mater meluas pada bagian bawah medulla spinalis,  berakhir kira-kira setinggi bagian bawah L1.
2)      Arachniod
Arachnoid merupakan suatu membran fibrosa yang tipis, halus, dan avaskular. Arachnoid meliputi otak dan medulla spinalis, tetapi tidak mengikuti kontur luar sepeti pia mater.
3)      Dura Mater
Dura mater merupakan suatu jaringan liat, tidak elastis, dan mirip kulit sapi, yang terdiri atas lapisan-lapisan luar yang disebut duraendosteal dan bagian dalam yang disebut dura meningeal. Lapisan endosteal membentuk bagian dalam periosteum tengkorak dan berlanjut sebagai periosteum yang membatasi kanalis  vertebralis medulla spinalis.
b.      Cairan Cerebrospinal
Dalam setiap ventrikel terdapat struktur sekresi khusus yang dinamakan pleksus koroideus. Pleksus koroideus inilah yang menyekresi CSS yang jernih dan tak berwarna, yang merupakan bantal cairan pelindung disekitar SSP. CSS terdiri dari air, elektrolit, gas oksigen, karbondioksida yang terlarut, glukosa, beberapa leukosit (terutama limposit), dan sedikit protein.
(Price, 1995).
Fungsi CSS antara lain:
1)      Sebagai alas atau bantalan dari struktur neuron
2)      Sebagai penyangga dari otak.
3)      Transpotasi nutrisi, pesan kimia, dan produk sisa.
c.       Ventrikel
Ventrikel merupakan rangkaian dari empat rongga dalam otak  yang saling berhubungan dan dibatasi oleh ependimal. Ventrikel ketiga terdapat dalam diencepalon. Ventrikel keempat dalam pons dan medulla oblongata. Ventrike lateral mempunyai hubungan dengan ventrikel ketiga melalui sepasang foramen-interventrikularis (foramen monro).
Ventrikel ketiga dan keempat dihubungkan melalui suatu saluran sempit didalam otak tengah yang dinamakan akueduktus silvius.
Pada ventrikel keempat terdapat tiga lubang sepasang foramen luschka dilateral dan satu foramen magendie di medialis, yang berlanjut keruang subarachnoid otak dan medulla spinalis.
(Simon, 2003).



d.      Suplai darah
1)      Arteri karotis
Arteri karotis interna dan eksterna bercabang dari arteri karotis komunis kira-kira setinggi kartilago tiroid.
2)      Arteri Cerebri
Arteri serebri anterior memberi supli darah pada struktur-struktur seperti nukleus kaudatus dan putamen basal ganglia, bagian-bagian kapsula interna dan korpus kallosum, serta bagian-bagian (terutama medial) lobus frontalis dan parietalis serebri, termasuk korteks somestetik dan korteks motorik. Bila arteri serebri anterior mengalami sumbatan pada cabang utamanya, maka akan terjadi hemiplegia  kontralateral yang lebih berat dibagian kaki dibandingkan bagian tangan.
3)      Drainase Vena Otak
Aliran vena batang otak dan serebellum berjalan paralel dengan distribusi pembuluh arterinya. Sebagian besar drainase vena serebrum adalah melalui vena-vena dalam, yang mengalirkan darah kepleksus vena superfisialis dan kesinus-sinus dura mater. Akhirnya, sinus-sinus ini mengalirkan darah ke vena jugularis interna pada dasar tengkorak dan bersatu dengan sirkulasi umum.
e.       Cerebrum
Area atau wilayah terbesar dari otak adalah serebrum. Serebrum terdiri dari hemisfer kanan dan kiri yang dibagi oleh suatu lekuk atau celah dalam yang disebut fisura longitudinalis mayor. Bagian luar hemisfer serebri terdiri atas substansia grisea yang disebut sebagai korteks serebri, terletak diatas substansia alba yang merupakan bagian dalamhemisfer dan disebur pusat medulla. Kedua hemisfer saling dihubungkan oleh suatu pita serabut lebar yang disebut korpus kalosum.


f.       Corteks Cerebri
1)      Lobus Frontalis
Lobus frontalis adalah area dari korteks serebrum yang terletak didepan sulkus sentralis dan didasar sulkus lateralis. Bagian ini mengandung daerah-daerah motorik dan pramotorik.
Daerah broca terletak dilobus frontalis dan mengendalikan ekspresi bicara. Banyak area asosiasi dilobus frontalis menerima informasi dari seluruh otak dan menggabungkan i formasi-informasi tersebut menjadi pikiran, rencana, dan perilaku.
2)      Lobus Parietalis
Lobus parietalis adalah daerah korteks yang terletak dibelakang sulkus sentralis, didasar fisura lateralis, dan meluas kebelakang menuju fisura parieto-oksipitalis. Lobus ini merupakan daerah sensorik primer otak untuk sensasi peraba dan pendengaran.
3)      Lobus Oksipitalis
Lobus oksipitalis adalah lobus posterior korteks serebrum. Lobus ini terletak disebelah posterior dari lobus parietalis dan didasar fisura parieto-oksipitalis, yang memisahkannya dari serebellum. Lobus ini adalah pusat asosiasi visual utama. Lobus ini menerima informasi yang berasal dari retina mata.
4)      Lobus Temporalis
Lobus temporal mencakup bagian korteks cerebrum yang berjalan kebawah dari fisura lateralis dan kesebelah posterior dari fisura parieto-oksipitalis. Lobus temporalis adalah area asosiasi primer untuk informasi auditorik dan mencakup area Wernicke tempat interpretasi bahasa. Lobus ini juga terlihat dalam interpretasi bau dan penyimpanan ingatan.


a.       Cerebellum
Cerebellum terletak di dalam fossa kranii posterior dan ditutupi oleh dura mater yang menyerupai atap tenda, yaitu tentorium, yang memisahkannya dari bagian posterior serebrum.
Fungsi utama serebellum adalah:
1)      Mengatur otot-otot postural tubuh.
2)      Melakukan program akan gerakan-gerakan pada keadaan sadar dan bawah sadar.
1.      Batang Otak
a.       Pons
Pons berbentuk jembatan serabut-serabut yang menghubungkan kedua hemisfer serebellum, serta menghubungkan mesencepalon disebelah atas dengan medulla oblongata dibawah. Pons merupakan mata rantai penghubung yang penting pada jaras kortikosereberalis yang menyatukan hemisfer serebri dan serebellum. Bagian bawah pons berperan dalam pengaturan pernafasan. Nukleus syaraf V, VI, dan VII terdapat disini.
b.      Meduls Oblongata
                Medulla oblingata merupakan pusat refleks yang penting untuk jantung, vasokonstriktor, pernafasan, bersin, batuk, menelan, pengeluaran air liur, dan muntah.


2.      Mesencefalon
      Mesencepalon (otak tengah) merupakan bagian pendek dari batang otak yang letaknya diatas pons. Secara fisiologis mesencepalon mempunyai peran yang penting dalam pengaturan respons-respon tubuh. 
3.      Diencefalon
a.       Talamus
Talamus terdiri atas 2 struktur ovoid yang besar, masing-masing mempunyai kompleks nukleus yang saling berhubungan dengan korteks serebri homolateral, serebellum, dan dengan berbagai kompleks  nuklear subkortikal seperti yang ada dihipotalamus, formasi retikularis batang otak, basal ganglia, dan mungkin juga substansia  nigra. Talamus merupakan stasiun transmiter yang penting dalam otak dan juga merupakan pengintegrasi subkortikal yang penting.
b.      Hipotalamus
Hipotalamus terletak dibawah talamus. Hipotalamus berkaitan dengan pengaturan rangsangan dari sistem susunan syaraf otonom perifer yang menyertai ekspresi tingkah laku dan emosi.
Fungsi dari hipotalamus adalah:
1)      Pengendalian secara tidak sadar dari kontraksi otot-otot skeletal.
2)      Pengendalian fungsi otonom.
3)      Koordinasi aktivitas sistem pesyarafan dan endokrin.
4)      Sekresi hormon.
5)      Menghasilkan dorongan emosi dan perilaku.
6)      Koordinasi antara fungsi otonom dan volunter.
7)      Mengatur suhu tubuh.
c.       Subtalamus
Subtalamus merupakan nukleus ekstrapiramidal diencepalonyang penting. Subtalamus mempunyai hubungan dengan nukleus ruber, substansia nigra, dan globus palidus dari ganglia basalis. Fungsinya belum jelas diketahui, tetapi lesi pada subtalamus dapat menimbulkan diskinesia dramatis yang disebut hemibalismus.
d.      Epitalamus
Epitalamus berbentuk pita sempit jaringan syaraf yang membentuk atap diencepalon. Struktur utama daerah ini adalah nukleus habenular dan komisura, komisura posterior, striae medularis, dan epifisis.

4.      Syaraf Kranial



Ringkasan fungsi syaraf kranial
Syaraf Kranial
Komponen
Fungsi
I Olfaktorius
Sensorik
Penghidu (penciuman)
II optikus
Sensorik
Penglihatan
III okulomotorius
Motorik
Mengangkat kelopak mata atas
Konstriksi pupil
Sebagian besar gerakan ekstraokular
IV koklearis
Motorik
Gerakan mata kebawah dan kedalam
V trigeminus
Motorik


sensorik
Otot temporalis dan maseter (menutup rahang dan menngunyah) gerakan rahang kelateral.
·         Kulit wajah, duapertiga depan kulit kepala; mukosa mata; mukosa hidung dan rongga mulut, lidah dan gigi.
·         Refleks kornea atas refleks mengedip, komponen sensorik dibawa oleh syaraf kranial V, respons motorik melalui syaraf kranial VII  
VI abdusens
Motorik
Deviasi mata kelateral
VII Fasialis
Motorik
·         Otot-otot ekspresi wajah termasuk otot dahi, sekeliling mata serta mulut.
·         Lakrimasi serta salivasi  
VIII cabang vestibularis vestibulokoklearis.
Cabang koklearis
Sensorik


Sensorik
Keseimbangan


Pendengaran
IX glosofaringeus
Motorik

Sensorik
Faring: menelan, refleks muntah
Parotis: salivasi
 Faring, lidah posterior, termasuk rasa pahit
X Vagus
Motorik

Sensorik
Faring, laring : menelan, refleks muntah, fonasi, visera abdomen.
Faring, laring: refleks muntah; visera leher, thoraks dan abdomen
XI Asesorius
Motorik
Otot sternokleidomastoideus dan bagian atas dari otot trapezius: pergerakan kepala dan bahu.
XII Hipoglosus
Motorik
Pergerakan lidah



1.      Syaraf Spinal
Syaraf spinal pada manusia dewasa memiliki panjang sekitar 45 cm dan lebar 14 mm. Pada bagian permukaan dorsal dari syaraf spinal, terdapat alur yang dangkal secara longitudinal dibagian medial posterior berupa sulkus dan bagian yang dalam dianterior berupa fisura.
2.      syaraf Otonom
a.       Sistem Syaraf Otonom Simpatis
1)      Ganglia kolateral
Visera abdominopelvis menerima inervasi simpatis melalui serabut preganglion yang menerobos rantai simpatis tanpa sinaps. Serabut ini dimulai dari neuron-nuron preganglion didalam segmen-segmen bawah torakal dan segmen-segmen atas lumbal. Serabut ini menjalar pada dinding rongga dad dan abdomen serta mengatur keadaan didalam rongga dada dan abdomen secara otonom.
2)      Medula adrenal
Medula adrenal dipengaruho oleh ganglion simpatis sinaps serabut preganglionik pada sel-sel neuroendokrin khusus berfungsi untuk melepaskan neurotransmitter epinefrin dan norepinefrin kedalam sirkulasi umum.
3)      Fungsi sistem syaraf otonom simpatis
Fungsi unik sistem syaraf otonom sispatis adalah sistem ini siap siaga untuk membantu proses kedaruratan. Dibawah keadaan stress baik yang disebabkan oleh fisik maupun emosional dapat menyebabkan peningkatan yang cepat pada impuls simpatis. Tubuh mempersiapkan untuk respons “fight or fligt” jika ada ancaman.

D.    Patofisiologi
Infark serebri adalah berkurangnya suplai darah ke area tertentu di otak. Luasnya infark bergantung pada faktor-faktor seperti lokasi dan besarnya pembuluh darah dan adekuatnya sirkulasi kolateral terhadap area yang disuplai oleh pembuluh darah yang tersumbat.
Suplai darah ke otak dapat berubah (makin lambat atau cepat )pada gangguan lokal (trombus,emboli,perdarahan,dan spasme vaskular)atau karena gangguan umum (hipoksia karena gangguan paru dan jantung ). Aterosklerosis sering kali merupakan faktor penting untuk otak,trombus dapat berasal dari plak aterosklerosis,atau darah dapat beku pada area yang stenosis,tempat aliran darah akan lambat atau terjadi turbelensi. Trombus dapat pecah dari dinding pembuluh darah dan terbawa sebagai emboli dalam aliran darah. Trombus mengakibatkan :
1.      Iskemia jaringan otak pada area yang disuplai oleh pembuluh darah yang     bersangkutan.
2.      Edema dan kongesti di sekitar area
Area edema ini menyebabkan disfungsi yang lebih besar dari area infark itu sendiri. Edema dapat berkurang dalam beberapa jam atau kadang-kadang sesudah beberapa hari. Dengan berkurangnya edema klien mulai menunjukkan perbaikan.
Karena trombosis biasanya tidak fatal,jika tidak terjadi perdarahan masif. Oklusi pada pembuluh darah serebri oleh embolus menyebabkan edema dan nekrosis diikuti trombosis. Jika terjadi infeksi sepsis akan meluas pada dinding pembuluh darah,maka akan terjadi abses atau ensefalitis,atau jika sisa infeksi berada pada pembuluh darah yang tersumbat menyebabkan dilatasi aneurisma pembuluh darah. Hal ini menyebabkan perdarahan serebri,jika aneurisma pecah atau ruptur.
Perdarahan pada otak lebih disebabkan oleh ruptur arteriosklerotik dan hipertensi pembuluh darah. Perdarahan intra serebri yang sangat luas akan menyebabkan kematian diibandingkan dari keseluruhan penyakit serebrovaskuler,karena perdarahan yang luas terjadi destruksi massa otak,peningkatan tekanan intrakranial dan yang lebih berat dapat menyebabkan herniasi otak pada falks serebri atau lewat foramen mágnum.
Kematian dapat disebabkan oleh kompresi batang otak,hemisfer otak,dan perdarahan batang otak sekunder atau ekstensi perdarahan ke batang otak. Perembesan darah ke ventrikel otak terjadi pada sepertiga kasus perdarahan otak  di nukleus kaudatus,talamus,dan pons.
Jika sirkulasi serebri terhambat,dapat berkembang anoksia serebri. Perubahan disebabkan oleh anoksia serebri dapat reversibel untuk jangka waktu 4-6 menit. Perubahan irreversibel bila anoksia lebih dari 10 menit. Anoksia serebri dapat terjadi oleh karena gangguan yang bervariasi salah satunya henti jantung. Selain kerusakan parenkim otak,akibat volum perdarahan yang relatif banyak akan mengakibatkan peningkatan tekanan intra kranial dan menyebabkan menurunnya tekanan perfusi otak serta terganggunya drainase otak (Arif Muttaqin, Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Persyarafan, 2008:240-242).
Elemen-elemen vasoaktif darah yang keluar serta kaskade iskemik akibat menurunnya tekanan perfusi,menyebabkan neuron-neuron di daerah yang terkena darah dan sekitarnya tertekan lagi.jumlah darah yang keluar menentukan prognosis.apabila volume darah lebih dari 60cc maka resiko kematian sebesar 93% pada perdarahan dalam dan 71%pada perdarahan lobar. Sedangkan bila terjadi perdarahan serebral dengan volume antara 30-60 cc diperkirakan kemungkinan kematian sebesar 75% tetapi volume darah 5 cc dan terdapat di pons sudah berakibat fatal. (jusuf misbach,1999).







G.    Gambaran Klinis
Gambaran klinis yang sering terlihat pada klien dengan stroke ini adalah:
1.      Mendadak
2.      Terjadi saat aktivitas
3.      Nyeri kepala
4.      Kejang
5.      Muntah
6.      Kesadaran menurun
7.      Koma/kesadaran menurun
8.      Kaku kuduk
9.      Edema pupil
10.  Perdarahan retina
11.  Bradikardia

H.    Penatalaksanaan Medis
1.      Penatalaksanaan untuk mengobati keadaan akut.
Untuk mengobati keadaan akut perlu diperhatikan factor-faktor kritis sebagai berikut :
a.       Berusaha menstabilkan tanda-tanda vital dengan cara:
1)      Mempertahankan saluran nafas yang paten, yaitu sering lakukan                      pengisapan lendir, oksigenasi,kalau perlu lakukan trakeostomi,membantu pernafasan.
2)      Mengontrol tekanan darah berdasarkan  kondisi klien, termasuk usaha memperbaiki hipootensi dan hipertensi
b.      Berusaha menemukan dan memperbaiki aritmia jantung
c.       Merawat kandung  kemih, sedapat mungkin jangan menggunakan kateter.
d.      Menempatkan klien dalam posisi yang tepat,harus dilakukan secepat mungkin.posisi klien harus diubah tiap 2 jam dan dilakukan latihan-latihan gerak pasif.


2.      Protokol penatalaksanaan stroke haemorargik.
a.       Singkirkan  kemungkinan koagulopan: pastikan hasil massa protrombin dan massa tromboplastin partial adalah normal. Jika massa protrombin memanjang,berikan plasma beku segar (FFP)4-8 unit intravena setiap 4 jam dan vitamin k 15 mg intravena bolus. Kemudian 3 kali sehari 15 mg subkutan sampai massa protrombin normal. Koreksi antikoagulasi heparin dengan protamin sulfat 10-15 mg lambat bolus (1 mg mengoreksi 100 unit heparin).
b.      Kendalikan hipertensi. Berlawanan dengan infark serebri akut,pendekatan pengendalian tekanan darah yang lebih agresif dilakukan pada pasien dengan perdarahan intraserebral akut, karena tekanan yang tinggi dapat menyebabkan perburukan edema serta meningkatkan kemungkinan perdarahan ulang. Tekanan darah sistolik > 180 mmhg harus diturunkan sampai 150-180 mmHg dengan labetalol (20 mg intravena dalam 2 menit; ulangi 40-80 mg intravena  dalam interval 10 menit sampai tekanan yang diinginkan,kemudian infus 2 mg/ menit (120 ml/jam)dan dititrasi atau penghambat ACE (misalnya ; kaptropril 12,5-25 mg , 2-3 kali sehari) atau antagonis kalsium ( misalnya nifedipin oral 4 kali 10 mg).
c.       Pertimbangan konsultasi bedah saraf bila : perdarahan serebelum diameter lebih dari 3 cm atau volum > 50 ml untuk dekompresi atau pemasangan pintasan ventrikulo-peritoneal bila ada hidrosefalus obstruktif akut atau kliping aneurisma.
d.      Pertimbangan angiografi untuk menyingkirkan aneurisma atau malformasi arteriovenosa. Pemeriksaan ini dapat dilakukan pada pasien usia muda < 50 tahun yang hipertensi bila tersedia fasilitas.
e.       Berikan manitol 20% (1 kg/kg BB,intravena dalam 20-30 menit ) untuk pasien dengan koma dalam atau tanda-tanda TIK yang meninggi atau ancaman herniasi. Steroid tidak terbukti efektif pada pada perdarahan intraserebral. Steroid hanya dipakai pada kondisi ancaman herniasi trantentorial. Hiperventilasi dapat dilakukan untuk membantu menurunkan TIK.
f.       Pertimbangkan fenitoin(20-30 mg/kgBB intravena,kecepatan maximal 50 mg/menit; atau per oral)paada pasien dengan perdarahan luas dan derajat kesadaran menurun. Umumnya, antikonvulsan henya diberikan apabila aktivitas kejang. Namun terapi profilaksis beralasan jika kondisi pasien cukup kritis dan membutuhkan intubasi, terapi TIK meningkat atau pembedahan.
g.      Pertimbangkan terapi hipervolemik dan nimodipin untuk mencegah vasospasme bila secara klinis,fungsi lumbal atu CT scan menunjukkan perdarahan subarachnoid akut primer.
h.      Perdarahan intraserebral
1)      Obati penyebabnya
2)      Turunkan tekanan intrakranial
3)      Berikan neuroprotektor
4)      Tindakan bedah,dengan pertimbangan usia dan skala koma Glasgow (>4),hanya dilakukan dengan pasien dengan:
a)      perdarahan serebellum dengan diameter >3cm (kraniotomi dekompresi).
b)      Hidrosefalus akut akibat perdarahan intraventrikel atau serebellum (VP shunting)
c)      Perdarahan lobar di atas 60 cc dengan tanda-tanda peninggian tekanan intrakranial akut dan ancaman herniasi
i.        Perdarahan subaraknoid
1)      Nimodipin dapat diberikan untuk mencegah vasospasme pada perdarahan subaraknoid primer akut.
2)      Tindakan operasi dapat dilakukan pada perdarahan subaraknoid stadium I dan II akibat pecahnya aneurisma sakular Berry ( clipping) dan adanya komplikasi hidrosepalus obstruktif (VP shunting) (kapita selekta kedokteran,jilid 2, 2000:22)
I.          Penatalaksanaan Diet
Penatalaksanaan diet stroke antara lain sebagai berikut:
1.      Untuk menu sehari-hari usahakan memilih makanan yang beragam, bergizi, berimbang, dan aman bagi tubuh. Jadi dalam mengkonsumsi makanan ,hendaknya pasien memilih yang cukup mengandung zat gizi,beragam(ada nasi atau penggantinya,lauk pauk hewani dan nabati sayur dan buah),aman ( pilih makanan bersih dan hindari mengkonsumsi makanan yang mengandung banyak bahan tambahan dan sebaiknya jangan makan terlalu berlebihan (sangat kenyang)
2.      Untuk lauk pauk hewani, sebaiknya pilih daging atau ikan Yang tidak banyak mengandung lemak (kolesterol). Demikian juga, penggunaan minyak goreng nabati(pilih minyak goreng nabati yang rendah lemak atau kolesterol) dan mentega (yang tidak mengandung lemak trans). Hindari mengkonsumsi produk laut lain yang tercemar logam berat (Pb, Hg, atau Cu). Tidak dianjurkan mengkonsumsi daging sapi dan ayam yang berlemak, jeroan (otak, hati, usus, jantung dan sebagainya), susu, keju, eskrim, produk protein hewani yang diawetkan (daging asap, ham, dendeng, margarin, mentega, santan kental, krim, dan produk gorengan).
3.      Kurangi penggunaan garam yang berlebihan termasuk mengurangi konsumsi makanan yang diawetkan dengan bahan natrium benzoat. Uasahakan konsumsi garam dapur maksimal 1,5 sendok teh/hari (setara dengan 5 gr garam dapur)
4.      Perbanyak konsumsi makanan yang mengandung banyak serat(dalam sayur/buah). Sayur atau buah yang bisa dikonsumsi, antara lain : bayam,kacang-kacangan(kacang kedelai,kacang hijau,kacang merah dan sebagainya), jamur,bawang,dan avokad.
5.      konsumsi air minum yang aman dalam jumlah yang cukup(sekitar 6-8 gelas sehari). Minuman hendaknya diberikan setelah selesai makan.
6.      pilihlah makanan yang cukup mengandung vitamin B,vitamin c, dan vitamin E.
Selain mengatur makanan yang dikonsumsi, dianjurkan pula mengurangi/ menghindari rokok atau minuman beralkohol seoptimal mungkin. Untuk mencegah agar stroke tidak terulang,manajemen untuk mengatasi stress juga harus melakukan agar streessor bisa dikurangi meski tidak bisa dihilangkankan sama sekali.

J.      Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan diagnostik yang diperlukan dalam membantu menegakkan diagnosis klien stroke meliputi:
1.      Angiografi Cerebri
Membantu menentukan penyebab dari stroke secara spesifik seperti perdarahan arteriovena atau adanya ruptur dan untuk mencari sumber perdarahan seperti aneurima atau malformasi vaskuler.
2.      Lumbal Pungsi
Tekanan yang meningkat dan disertai bercak darah pada cairan lumbal menunjukkan adanya hemorargik pada subaraknoid atau perdarahan pada intrakranial. Peningkatan jumlah protein menunjukkan adanya proses inflamasi. Hasil pemeriksaan likuor yang merah biasanya dijumpai pada perdarahan yang masif,sedangkan perdarahan yang kecil biasanya warna likuor masih normal (xantokorom) sewaktu hari- hari pertama.
3.      CT  Scan
Memperlihatkan secara spesifik letak edema,posisi hematoma,adanya jaringan otak yang infark atau iskemia,serta posisinya secara pasti. Hasil pemeriksaan biasanya didapatkan hiperdens fokal,kadang-kadang masuk ke ventrikel,atau menyebar ke permukaan otak.
4.      Magnetik Imaging Resonance (MRI)
Dengan menggunakan gelombang magnetik untuk menentukan posisi serta besar/luas terjadinya perdarahan otak. Hasil pemeriksaan biasanya didapatkan area yang mengalami lesi dan infark akibat dari hemoragic.
5.      USG Doppler
Untuk mengidentifikasi adanya penyakit arteriovena (masalah sistem karotis)
6.      EEG
Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat masalah yangtimbul dan dampak dari jaringan yang infark sehingga menurunnya impuls listrik dalam jaringan otak.


7.      Sinar X Tengkorak
Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah yang berlawanan dari massa yaang luas,klasifikasi karotis interna terdapat pada trombosis cerebral.

K.    Komplikasi
1.      Hipoksia serebral
Hipoksia serebral diminimalkan dengan memberi oksigenasi darah adekuat ke otak. Fungsi otak bergantung pada ketersediaan oksigen yang dikirimkan ke jaringan. Pemberian oksigen suplemen dan mempertahankan hemoglobin serta hematokrit pada tingkat dapat diterima akan membantu dalam mempertahankan oksigenasi jaringan.
2.      Perubahan alira darah serebral
Perubahan aliran darah serebral bergantung pada tekanan darah, curah jantung, dan integritas pembuluh darah serebral. Hidrasi adekuat (cairan intravena). Harus menjamin penurunan viskositas dan memperbaiki aliran darah cerebral. Hipertensi atau hipotensi eksterm perlu dihindari untuk mencegah perubahan pada aliran darah serebral dan potensi meluasnya area cedera.
3.      Embolisme
Embolisme serebral dapat terjadi setelah infark miokard atau fibrilasi atrium atau dapat berasal dari katup jantung prostetik. Embolisme akan menurunkan aliran darah ke otak dan selanjutnya menurunkan aliran darah serebral. Disritmia dapat mengakibatkan curah jantung tidak konsisten dan penghentikan trombus lokal. Selain itu,disritmia dapat menyebabkan embolus serebral dan harus diperbaiki.
4.      Hidrosefalus
Menandakan adanya ketidakseimbangan antara pembentukan dan reabsorbsi dari cairan serebrospinal.
5.      Disritmia
Batang otak mempengaruhi frekwensi jantung,sehingga adanya iritasi kimia dapat mengakibatkan ketidakteraturan ritme jantung.
6.      Pneumonia
Akibat gangguan pada pergerakan menelan, mobilitas dan pengembangan paru, serta batuk yang parah estela serangan stroke terjadi peradangan di dalam rongga dada.
7.      Kerusakan integritas kulit (dekubitus)
Karena penderita stroke mengalami kelemahan fisik dan kelumpuhan serta kehilangsn perasaanya.
8.      Problem kejiwaan
Penderita sering mengalami depresi dan rendah diri.

L.     Asuhan Keperawatan Teoritis
1.      Pengkajian
Pengkajian keperawatan stroke meliputi anamnesis riwayat penyakit,pemeriksaan fisik,pemeriksaan diagnostik,dan pengkajian psikososial.
a.       Anamnesis
Identitas klien meliputi nama,usia, (kebanyakan terjadi pada usia tua),jenis kelamin,pendidikan,alamat,pekerjaan,agama,suku bangsa,tanggal dan jam masuk rumah sakit,nomor register,dan diagnosis medis.
Keluhan utama yang sering manjadi alasan klien untik meminta bantuan kesehatan adalah kelemahan anggota gerak sebelah badan,bicara pelo,tidak dapat berkomunikasi,dan penurunan tingkat kesadaran.
1)      Riwayat Penyakit Saat Ini
Serangan stroke hemorargik sering kali berlangsung sangat mendadak pada saat klien sedang melakukan aktivitas. Biasanya terjadi nyeri kepala,mual,muntah,bahkan kejang,sampai tidak sadar selain gejala kelumpuhan separuh badan atau gangguan fungsi otak yang lain.    


2)      Riwayat Penyakit Dahulu
Adanya riwayat hipertensi, riwayat stroke sebelumnya,diabetes mellitus, penyakit jantung, anemia, riwayat trauma kepala, kontrsepsi oral yang lama, penggunaan obat antikoagulan ,aspirin, vasodilator, obat-obat adiktif, dan kegemukan. Pengkajian obat-obat yang sering digunakan klien, seperti pemakaian obat-obat antihipertensi, antillipidemia, penghambat beta, dan lainnya. Adanya riwayat merokok, penggunaan alkohol dan penggunaan obat kontrasepsi oral. Pengkajian riwayat ini dapat mendukung pengkajian dari riwayat penyakit sekarang dan merupakan data dasar untuk mengkaji lebih lanjut dan untuk memberikan tindakan selanjutnya.
3)      Riwayat Penyakit Keluarga
Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi,diabetes mellitus atau adanya riwayat stroke dari generasi terdahulu.
b.      Pemeriksaan Fisik
Setelah melakukan anamnesis yang mengarah pada keluhan-keluhan klien,pemeriksaan fisik sangat berguna untuk mendukung data dari pengkajiaan anamnesis. Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan per sistem (B1-B6) dengan fokus pemeriksaan B3 (Brain) yang terarah dan di hubungkan dengan keluhan-keluhan dari klien.
1)      Keadaan Umum
Umumnya mengalami penurunan kesadaran. Suara bicara kadang mengalami gangguan,yaitu sukar dimengerti,kadang tidak bisa bicara,dan tanda-tanda vital: tekanan darah meningkat,denyut nadi bervariasi.
a)      B1 (Breathing)
Inspeksi didapatkan klien batuk,peningkatan produksi sputum,sesak napas,penggunaan otot bantu napas,dan peningkatan frekuensi pernapasan. Auskultasi bunyi napas tambahan seperti ronkhi pada klien dengan peningkatan produksi sekret dan kemampuan batuk yang menurun yamg sering didapatkan pada klien stroke dengan penurunan tingkat kesadadaran koma.
Pada klien dengan tingkat kesadaran compos mentis pada pengkajian inspeksi pernapasan tidak ada kelainan. Palpasi thoraks didapatkan taktil premitus seimbang kanan dan kiri. Auskultasi tidak didapatkan bunyi napas tambahan.
b)      B2 (Blood)
Pengkajian dalam sistem kardiovaskuler didapatkan renjatan (syok)hipovelemik yang sering terjadi pada klien stroke. TD biasanya terjadi peningkatan dan bisa terdapat adanya hipertensi masif TD > 200 mmHG.
c)      B3 (Brain)
Stroke menyebabkan berbagai defisit neurologis bergantung pada lokasi lesi (penbuluh darah mana yang tersumbat),ukuran area yang perfusinya tidak adekuat,dan aliran darah kolateral (sekunder atau asesori). Lesi otak yang rusak tidak dapat membaik sepenuhnya.pengkajian B3 merupakan pemeriksaan terfokus dan lebih lengkap dibandingkan pengkajian pada sistem lainnya.
2)      Tingkat Kesadaran
Kualitas kesadaran klien merupakan parameter yang paling mendasar dan paling penting yanng membutuhkan pengkajian. Tengkat kesadaran klien dan respons terhadap lingkungan adalah indikator paling sensitif untuk mendeteksi disfungsi sistem persarafan. Beberapa sistem digunakan untuk membuat peringkat perubahan dalam kewaspadaan dan kesadaran.
Pada keadaan lanjut ,tingkat kesadaran klien stroke biasanya berkisar pada tingkat letargi ,stupor,dan semikomatosa. Apabila klien sudah mengalami koma maka penilaian GCS sangat penting untuk menilai tingkat kesadaran klien dan bahan evaluasi untuk pemberian asuhan.

3)      Fungsi Serebri
a)      Status Mental
Observasi penampilan klien dan tingkah lakunya , nilai gaya bicara kilen , observasi ekspresi wajah , dan aktivitas motorik dimana pada klien stroke tahap lanjut biasanya status mental klien mengalami perubahan.
b)      Fungsi Intelektual
Didapatkan penurunan dalam ingatan dan memoro baik jangka pendek maupun jangka panjang. Penurunan kemampuan berhitung dan kalkulasi. Pada beberapa kasus klen mengalami kerusakan otak,yaitu kesukaran untuk mangenal persamaan dan perbedaan yang tidak begitu nyata.
c)      Kemampuan Bahasa
Penurunan kemampuan bahasa tergantung dari daerah lesi yang memengaruhi fungsi daru serebri. Lesi pada daerah hemisfer yang dominan pada bagian posterior dari girus temporalis superior (area wernicke) didapatkan disfasia reseptif,yaitu klien tidak dapat memahami bahasa lisan atau bahasa tertulis. Sedangkan lesi pada bagian pesterior dari girus frontalis inferior (area Broca) didapatkan disfagia eksprensif di mana klien dapat mengerti,tetapi tidak dapat menjawab dengan tepat dan bicaranya tidak lancar. Disatria (kesulitan berbicara) ditunjukkan dengan bicara yang sulit dimengerti yang disebabkan oleh paralisis otot yang beranggung jawab untuk menghasilkan bicara. Apraksia (ketidakmampuan untuk melakukan tindakan yang dipelajari sebelumnya) seperti  terlihat ketika klien mengambil sisir dan berusaha untuk menyisir rambutnya.

d)     Lobus Frontal
Kerusakan fungsi kognitif dan efek psikologis didapatkan bila kerusakan telah terjadi pada lobus frontal kapasitas,memori, atau fungsi intelektual kortikal yang lebih tinggi mungkin rusak. Disfungsi ini dapat ditunjukkan dalam lapang perhatian terbatas,kesulitan dalam pemahaman,lupa, dan kurang motivasi,yang menyebabkan klien ini menghadapi masalah frustasi dalam program rehabilitasi mereka. Depresi umum terjadi dan mungkin diperberat oleh respons alamiah klien terhadap penyakit katastrofik ini. Masalah psikologis lain juga umum terjadi dan dimanifestasikan oleh labilitas emosional,bermusuhan,frustasi,dendam,dan kurang kerja sama.
e)      Hemisfer
Stroke hemisfer kanan menyebabkan hemiparese sebelah kiri tubuh,penilaian buruk,dan mempunyai kerentanan terhadap sisi kolateral sehingga kemungkinan terjatuh ke sisi yang berlawanan tersebut. Stroke pada hemisfer kiri mengalami hemiparese kanan,perilaku lambat dan sangat hati-hati,kelainan lapang pandang sebelah kanan,disfagia global,afasia dan medah frustasi.
4)      Pemeriksaan Syaraf Kranial
5)      Sistem Motorik
Stroke adalah penyakit motor neuron atas dan mengakibatkan kehilangan kontrol volunter terhadap gerakan motorik. Karena neuron motor atas melintas,gangguan kontrol motor volunter pada salah satu sisi tubuh dapat menunjukkan kerusakan pada neuron motor atas pada sisi yang berlawanan dari otak.
a)      Inspeksi umum ,didapatkan hemiplegia (paralisis pada salah satu sisi) karena lesi pada sisi otak yang berlawanan. Hemiparesis atau kelemahan salah satu sisi tubuh adalah tanda yang lain.
b)      Fasikulasi didapatkan pada otot-otot ekstremitas.
c)      Tonus otot didapatkan meningkat.
d)     Kekuatan otot, pada penilaian dengan menggunakan nilai kekuatan otot pada sisi yang sakit didapatkan nilai 0.
e)      Keseimbangan dan koordinasi,mengalami gangguan karena hemiparese dan hemiplegia.
c.       Pemeriksaan Refleks
Pemeriksaan refleks dalam, pengetukan pada tendon, ligamentum, atau periosteum derajat refleks pada respons normal.
Pemeriksaan refleks patologis,pada fase akut refleks fisiologis sisi yang lumpuh akan menghilang. Setelah beberapa hari refleks fisiologis akan muncul kembali didahului dengan refleks patologis.
d). B4 (Bladder)
Setelah stoke klien mungkin mengalami inkontinensia urine sementara karena konfusi,ketidakmampuan mengkomunikasikan kebutuhan,dan ketidakmampuan untuk menggunakan urinal karena kerusakan kontrol motorik dan postural.kadang-kadang kontrol sfingter urinarius eksternal hilang atau berkurang. Selama periode ini,dilakukan keteterisasi intermiten dengan teknik steril. Inkontinensia urine yang berlanjut menunjukkan kerusakan neurologis luas.
e). B5 (Bowel)
Didapatkan adanya keluhan kesulitan menelan,nafsu makan menurun,mual,dan muntah pada fase akut. Mual sampai muntah dihubungkan dengan peningkatan produksi asam lambung sehingga menimbulkan masalah pemenuhan kebutuhan nutrisi.pola defekasi biasanya terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus. Adanya inkontinensia alvi yang berlanjut menunjukkan kerusakan neurologis luas.
f). B6 (Bone)
Stroke adalah penyakit neuron atas dan mengakibatkan kehilangan kontrol volunter terhadap gerakan motorik.karena neuron motor atas melintas,gangguan kontrol motor volunter pada salah satu sisi tubuh dapat menunjukkan kerusakan pada neuron motor atas pada sisi yang berlawanan dari otak. Disfungsi motor paling umum adalah hemiplegia (paralisis pada salah satu sisi ) karena lesi pada sisi otak yang berlawanan. Hemiparesis, atau kelemahan salah satu sisi tubuh adalah tanda yang lain. Pada kulit, jika klien kekurangan O2 kulit akan tampak pucat dan jika kekurangan cairan maka turgor kulit akan jelek. Di samping itu perlu juga dikaji tanda-tanda dekubitus,terutama pada daerah yang menonjol karena klien stroke mengalami masalah mobilitis fisik. Adanya kesukaran untuk beraktivitas karena kelemahan,kehilangan sensorik,atau paralisis/hemiplegia,mudah lelah menyebabkan masalah pada pola aktivitas dan istirahat.
(Arif Muttaqin, Askep keperawatan gangguan persarafan,2008:248  )
2.      Diagnosa Keperawatan
a.       Risiko peningkatan TIK berhubungan dengan peningkatan volume intrakranial,penekanan jaringan otak,dan edema serebri.
b.      Perubahan perfusi jaringan otak berhubungan dengan perdarahan intraserebri,oklusi otak, vasospasme dan edema otak.
c.       Hambatan mobillitas fisik berhubungan dengan hemiparese/hemiplagia, kelemahan neuromaskular pada ekstremitas.
d.      Resiko gangguan integritas kulit  berhubungan dengan tirah baring yang lama.
e.       Gangguan eliminasi alvi (konstipasi) berhubungan dengan imobilisasi asupan cairan yang tidak adekuat.
f.       Gangguan eliminasi urine (inkontinensia uri) berhubungan dengan lesi pada neuron motor atas

3.      Rencana Asuhan Keperawatan Teoritis
a.       Diagnosa Keperawatan 1
1)      Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 3 x 24 jam diharapakan tidak terjadi peningkatan TIK pada klien.
2)      Kriteria Hasil
a)      Klien tidak gelisah
b)      Klien tidak mengeluh nyeri kepala
c)      Klien tidak mengeluh mual dan muntah
d)     Terjadi peningkatan pada Tingkat kesadaran
e)      Tidak terdapat papiledema.
f)       TTV dalam batas normal
3)      Intervensi
Mandiri
a)      Kaji faktor penyebab dari situasi/keadaan individu/penyebab koma/penurunan perfusi jaringan dan kemungkinan penyebab peningkatan TIK.
Rasional:
Deteksi dini untuk memprioritaskan intervensi,mengkaji status neurologis / tanda-tanda kegagalan untuk menentukan perawatan kegawatan atau tindakan pembedahan
b)      Memonitor TTV tiap 4 jam
Rasional:
Suatu keadaan normal bila sirkulasi serebri terpelihara dengan baik,penurunan dari otoregulator kebanyakan merupakan tanda penurunan difusi lokal vaskularisasi darah serebri.
c)      Evaluasi pupil
Rasional:
Reaksi pupil dan pergerakan kembali dari bola mata merupakan tanda dari gangguan saraf jika batang otak terkoyak. Keseimbangan saraf antara simpatis dan parasimpatis merupakan respons reflek saraf kranial.
d)     Monitor temperatur dan pengaturan suhu lingkungan
Rasional:
Panas merupakan refleks dari hipotalamus. Peningkatan kebutuhan metabolisme an O2  akan menunjang peningkatan TIK.
e)      Pertahankan kepala atau leher pada posisi netral, usahakan dengan sedikit bantal. Hindari penggunaan bantal yang tinggi pada kepala.
Rasional:
Perubahan kepala pada satu sisi dapat menimbulkan penekanan pada vena jugularis dan menghambat aliran darah otak (menghambat drainase pada vena serebri) sehingga dapat meningkatkan TIK.
f)       Kaji peningkatan istirahat dan tingkah laku pada pagi hari
Tingkah nonverbal ini dapat merupakan indikasi penignkatan tekanan intrakranial atau memberikan refleks nyeri diman klien tidak mampu mengungkapkan keluhan secara verbal, nyeri yang tidak menurun dapat meningkatkan TIK. 
g)      Observasi tingkat kesadaran dengan GCS.
Rasional:
Perubahan kesadaran menunjukkan peningkatan TIK dan berguna menentukan lokasi dan perkembangan penyakit.
Kolaborasi
a)      Pemberian O2 sesuai indikasi
Rasional:
Mengurangi hipoksemia ,dimana dapat meningkatkan vasodilatasi serebri dan volume darah dan menaikkan TIK.
b)      Berikan cairan intravena sesuai dengan yang di indikasikan.
Rasional:
Pemberian cairan mungkin diinginkan untuk menurunkan edema serebri,peniingkatan minimum pada pembuluh darah,tekanan darah dan TIK.
c)      Berikan steroid seperti dexametason,metil prednisolon.
Rasional:
Untuk menurunkan implamasi (radang) dan mengurangi edema jaringn.
d)     Beri obat osmotik diuretik seperti manitol, furosid.
e)       Rasional:
Diuretik mungkin digunakan pada fase akut untuk mengalirkan air dari sel-sel otak, dan mengurangi edema serebri dan TIK.
f)       Beri analgesik narkotik seperti kodein
Rasional:
Mungkin diindikasikan untuk mengurangi nyeri dan obat ini berefek negatif pada TIK tetapi dapat digunakan dengan tujuan untuk mencegah da menurunkan sensasi nyeri.
g)      Berikan sedatif seperti diazepam, benadril
Rasional:
Mungkin digunakan untuk mengontrol kurangnya istirahat dan agitasi.
h)      Antihipertensi
Rasional:
Digunakan pada hipertensi kronis, karena manajemen secara berlebihan akan meningkatkan perluasan kerusakan jaringan.   
i)        Monitor hasil laboratorium sesuai dengan indikasi seperti protrombin, LED
Rasional:
Membantu memberikan informasi tentang efektivitas pemberian obat.
b.      Diagnosa Keperawatan 2
Perubahan perfusi jaringan otak berhubungan dengan perdarahan intraserebri,oklusi otak, vasospasme dan edema otak.
1)      Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan dalam waktu 2 x 24 jam perfusi jaringan otak akan tercapai secara optimal.
2)      Kriteria Hasil
a)      Tidak ada keluhan nyeri kepala
b)      Klien tidak gelisah
c)      Klien tidak mual dan kejang
d)     Terjadi peningkatan pada tingkat kesadaran
e)      Pupil isokor
f)       Reflek cahaya positif
g)      TTV normal
3)      Intervensi
Mandiri
a)      Baringkan klien (tirah baring )total dengan posisi tidur telentang tanpa bantal
Rasional:
Perubahan padaTIK akan dapat menyebabkan resiko terjadinya herniasi otak
b)      Monitor tanda- tanda status neurologis dengan GCS
Rasional:
Dapat mengurangi kerusakan otak lebih lanjut
c)      Monitor tanda-tanda vital
Rasional:
Pada keadaan normal otoregulasi mempertahankan keadaan tekanan darah sistemik berubah secara fluktuasi. Kegagalan otoreguler akan menyebabkan kerusakan vaskuler serebri yang dapat dimanifestasikan dengan peningkatan sistolik diikuti oleh penurunan tekanan diastolik,sedangkan peningkatan suhu dapat menggambarkan perjalanan infeksi
d)     Monitor asupan dan pengeluaran.
Rasional:
Hipertermi dapat menyebabkan peningkatan IWL dan meningkatkan resiko dehidrasi terutama pada klien yang tidak sadar,mual yang menurunkan asupan per oral.
e)      Anjurkan klien untuk menghindari batuk dan mengejan berlebihan.
Rasional:
Batuk dan mengejan dapat meningkatkan TIK dan potensi terjadi perdarahan ulang.
Kolaborasi
a)      Berikan cairan per infus dengan perhatian ketat.
Rasional:
Meminimalkan fluktuasi pada beban vaskuler dan TIK,retrisi cairan ,dan cairan dapat menurunkan edema serebri.
b)      Monitor AGD bila diperlukan pemberian oksigen.
Rasional:
Adanya kemungkinan asidosis desertai dengan pelepasan oksigen pada tingkat sel dapat menyebabkan terjadinya iskemia serebri.
c)      Berikan terapi sesuai instruksi dokter seperti steroid, aminofen, dan antibiotik.
Rasional:
Tujuan terapi adalah: menurukan permeabilitas kapiler,menurunkan edema serebri,menurunkan metabolik/konsumsi sel dan kejang.

c.       Diagnosa Keperawatan 4
Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparese/hemiplagia neuromuskular pada extremitas.


1)      Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan di harapkan dalam waktu 2 x 24 jam klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuannya
2)      Kriteria Hasil
a) Klien dapat ikut serta dalam program latihan
b) Tidak terjadi kontraktur sendi
c) Meningkatkannya kekuatan otot
d) Kien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas
Intervensi
Mandiri
a)              Kaji mobilitas yang ada dan observasi terhadap peningkatan    kerusakan. Kaji secara teratur fungsi motorik.
Rasional:
Mengetahui tingkat kemampuan klien dalam melakukan aktivitas
b)             Ubah posisi klien tiap 2 jam.
Rasional:
Menurunkan resiko terjadinya iskemia jaringan akibat sirkulasi darah yang jelek pada daerah yang tertekan.
c)                  Ajarkan klien utuk melakukan latihan gerak  pada extremitas yang tidak sakit.
Rasional:
Gerakan aktif memberikan massa,tonus kekuatan otot,serta memperbaiki fungsi jantung dan pernafasan.
d)            Bantu klien melakukan latihan ROM, perawatan diri sesuai toleransi
Rasional:
Untuk memelihara fleksibilitas sendi sesuai kemampuan
Kolaborasi
Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien
Rasional:
Peningkatan kemampuan dalam mobilisasi ektremitas dapat ditingkatkan dengan latihan fisik dari tiem fisioterapis.

d.      Diagnosa Keperawatan 7
Gangguan eliminasi alvi ( konstifasi ) berhubungan dengan  imobilisasi, asupan cairan yang tidak adekuat.
1)      Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan dalam waktu 2 x 24 jam pemenuhan eliminasi alvi terpenuhi.
 Kriteria Hasil
a)      Klien dapat terdefekasi secara spontan dan lancar tanpa menggunakan obat,
b)      Konsistensi feses lembek berbentuk,
c)      Tidak teraba massa pada kolon ( scibala ),
d)      Bising usus dalam batas normal ( 15 – 30  x per menit )
2)      Intervensi
Mandiri
a)      Auskultasi pada bising usus.
Rasional:
Bising usus menandakan sifat aktivitas peristaltik.
b)      Anjurkan pada klien untuk makan makanan yang mengandung serat.
Rasional:
Diet seimbang tinggi kandungan serat merangsang peristalti dan eliminasi regular
c)      Bila klien mampu minum berikan asupan cairan yang cukup ( 2 liter per hari ) jika tidak ada kontraindikasi
Rasional:
Masukkan cairan adekuat membantu mempertahankan konsistensi feses yang sesuai pada usus dan membantu eliminasi regular.

d)     Lakukan mobilisasi sesuai dengan keadaan klien.
Aktifitas fisik regular membantu eliminasi dengan memperbaiki tonus otot abdomen dan merangsang dan membantu merangsang nafsu makan dan feristaltik.
Kolaborasi
Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian pelunak feses ( laksatif, supositoria, enema )
Rasional:
Pelunak feses meningkatkan efisiensi pembahasan air usus, yang melunakkan massa feses dan membantu eliminasi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar