TINJAUAN TEORITIS
A.
Pengertian
Batu empedu merupakan endapan atau
lebih komponen empedu : kolesterol, bilirubin, garam empedu, kalsium, dan
protein.
Kolesterol dan bilirubin tidak dapat larut dalam air. Batu empedu
dapat terbentuk dari bilirubin saja, kolesterol saja atau berupa batu campuran
kolesterol. Batu campuran ini mengandung kalsium.
Batu bilirubin murni biasanya kecil, majemuk, hitam dan di kaitkan
dengan kelainan hemolifik.Batu kolesterol murni biasanya besar, soliter, bulat, dan oval,
berwarna kuning pucat.Batu kolesterol campuran paling sering di temukan, majemuk, berwarna
cokelat tua.
B.
Etiologi dan Patofisiologi
Etiologi batu empedu masih belum jelas diketahui dengan sempurna;
akan tetapi faktor predisposisi yang paling penting yaitu gangguan
metabolismeyang disebabkan olehperubahan susunan empedu dan infeksi kandungan
empedu.
Cholelitiasis terjadi keseimbangan yang mengatur kolesterol, garam-garam
empedu, kalsium dalam larutan terganggu, sehingga terjadi pengendapan dari
substansi-substansi tertentu.
Ø Perubahan susunan empedu merupakan paling penting pada pembentukan
batu empedu.
Penyelidikan membuktikan penderita penyakit batu kolesterolmensekresi
empedu yang sangat jenuh dalam kolesterol.
Kolesterol yang berlebihan mengendap dalam kandung empedu.
Ø Statis empedu dalam kandungan empedu dapat mengakibatkan
supersaturasi dan perubahan komposisi kimia dari empedu dalam mobolitas.
Ø Faktor hormonal, khususnya selama kehamilan, mungkin menyebabkan
gangguan kantung empedu, batu dapat dapat tertahan dalam kantung empedu atau
berpindah ke saluran kistikatau saluran empedu. Batu ini dapat menyebabakan
nyeri ketika berjalan melalui saluran dan tersangkut sehingga menghasilkan
gangguan.
Ø Infeksi bakteri dalam saluran empedu dapat berperan sebagai dalam
pembentukan batu, melalui peningkatan deskuamasi sel akan pembentukan mukus.
Mukus meningkatkan viskositas dan unsur seluler atau bakteri dapat berperan penting
sebagai pusat presipitasi.
C.
Manifestasi Klinik
Manifestasi klinik terjadi dimana batu empedu menghalangi saluran
empedu, jika rintangan terjadi di duktus sitikus, empedu dapat terus mengalir
langsung ke duodenum dari lifer.
Manifestasi klinik
|
Etiologi
|
Jaundice, warna urine gelap,gemetar
(epilepsi)
|
-
Tidak ada cairan empedu yang
masuk ke dalam duodenum.
-
Bilirubin dapat larut dalam
urine.
|
Tidak adanya Urobilinogen dalam urine
|
-
Bilirubin tidak mencapai
saluran intestimen untuk di ubah menjadi urobilinogen
|
-
Feces berwarna pekat
-
Gatal-gatal
|
-
Sama dengan diatas, adanya
endapan garam empedu didalam jaringan kulit.
|
-
Kesalahan absorbsi atau
absorbsi lemak yang mudah larut dalam vitamin (A, D, E, K)
|
-
Tidak ada empedu di saluran
intestimen untuk emulsify fat; pengeluaran feces bersamaan dengan asam lemak.
-
Hilangnya lemak yang dapat
larut dalam vitamin .
|
-
Intoleransi terhadap makanan
berlemak (anoreksia)
|
-
Tidak ada di dalam saluran
intestimen
|
-
Perdarahan
|
-
Menurunnya absorbsi vitamin K
mengakibatkan menurunnya produksi prothombin
|
-
Steartorrhen
|
-
Tidak adanya garam empedu
diduodenum, mencegah fat-emulsion dan pencernaan.
|
Cholelityasis dapat menimbulkan gejala yang hebat atau tanpa gejala.
Beratnya gejala tergantung pada saluran mana yang terjadi penyumbatan,
spasm/kejang pada jaringan merupakan respon terhadap batu sebagai usaha untuk
memindahkan.
Kadang-kadang produksi dari batu empedu dapat menghasilkan nyeri
yang hebat. Nyeri yang hebat di sertai denga tachycardia, diaphoresis, dan
preostiation (lemah). Serangan nyeri ini terjadi pada skala 3-6 sesaat kemudian
setelah memakan makanan yang sukar di cerna atau di mana pasien mengambil
posisi berbaring.
D.
Complikasi
v Cholangitis
v Sirosisbiliary
v Carsinoma
v Peritonitis
E.
Studi Diagnostik dan
Penemuan
v Ultrasonograpy
Merupakan tes diagnostik yang terbaik dan sangat bermanfaat untuk
klien dengan jaundice, karena tergantung pada fungsi lifer, sangat akurat untuk
mendeteksi batu 90 %-95%.
v Cholecystogram oral
Memberikan gambaran dari batu (radiopaque)
IV cholangiogram menggambarkan batu empedu, jika batu empedu
berpindah ke sistem ductal dapat di gambarkan.
v Percutaneous transhepatic cholangiograpy
Di gunakan untuk diagnosa jaundice dan lokasi batu di saluran
empedu.
Empedu diambil pada waktu ERCP (kalimat untuk di identifikasi culture,
kemungkinan organisme terinfeksi).
v Tes laboratorium.
Menunjukan ketidak normalnya liver, dan meningkatnya perhitungan
blood cell (WBC) hasil dari inflamasi tingginya bilirubin dalam urine
menandakan proses ppenyumbatan.
Normal dari saluran empedu tidak ada penyumbatan, tidak ada
bilirubin di daerah intestinal, tidak
ditemukan urobilinogen, serum enzim, seperti : alkaline phosphatase,
SGOT LAST dan LDH, serum amilase akan bertambah apabila pankreas tersangkut.
F.
Management Terapi
Manegement terapi untuk cholelitiasis yaitu :
v Extracorporeal shock dengan methyl tertiary terbutyl etha (MTBE),
obat oral untuk menghancurkan batu, endoscopic sphinterotomy dan pembedahan.
v Pengobatan supportive diberikan sama dengan sholesistitis, obat ini
di gunakan seperlunya saja. Apabila batu disebabkan karena sumbatan, pengobatan
tambahan yang diberikan vitamin yang dapat larut, pemberian garam empedu untu
mempermudah pencernaan dan penyerapan vitamin serta diit rendah garam.
v ESWL biliary litotriptor menggunakan tinggi energi shock yaitu
gelombang yang menghancurkan batu empedu, dan pasien harus memiliki fungsi
kantung empedu yang baik.
v Ultrasound sean, pertama yang harus dikerjakan adalah menentukan
letak batu dan untuk menetapkan secara langsung pada gelombang shock. Gelombang
shock secara langsung melewati abdomen dengan bantalan yang berisikan air
kemudian di letakkan di area tersebut di butuhkan waktu 1-2 ja untuk
menghancurkan batu setelah menghancurkan fregmen selesai, keadaan saluran
empedu kembali normal di dalam saluran intestinal.
v Endoscopic sphincterotomy (papillotomy) berfungsi secara khusus
dalam melepaskan batu empedu kedalm saluran. Pada keadaan normal endoscopic di
masukkan ke dalam duodenum.
Sphincter oddi memperlebar insisi dari
otot spinoter.
v Pemasangan instilasi MTBE ke dalam kantung empedu melalui cateter
percutaneus, MTBE melarutkan batu-batu kolesterol sampai pada waktunya, asam
empedu juga di gunakan untuk melarutkan batu kolesterol.
v Prosedur pilihan lainnya adalah cholecystectomy, ini merupakan
prosedur yang aman dengan efek yang minim.
§ Intervensi yang berkaitan dengan pembedahan
-
Intervensi pembedahan dengan
cholelityasis adalah menunjukan frequently dan terdiri dari beberapa prosedur,
sebagian besar melaui insisi sebelah kanan subscotal.
T tube di masukkan ke dalam saluran empedu selama pembedahan di mana
biasanya saluran empedu exporasi merupakan bagian dari prosedur pembedahan,
memastikan patiency dari saluran sampai menghasilkan udema dan trauma untuk
memeriksa cairan yang telah hilang.
- Prosedur pembedahan lainnya
adalah endosyopic cholecystectomy (laparoscopic laser cholecystectomy), dalam
kantung empedu siap melepaskan satu sampai empat kebocoran kecil pada abdomen.
1 cm bocoran mencapai agak ke atas dari umbilikus dan memompa rongga perut 3-4
l karbondioksida untuk memperbaiki jarak penglihatan, laparoscope dengan kamera
gandeng di masukkan dalam abdomen.
Prosedur pembedahan kantung empedu.
Nama
|
Deskripsi
|
- Cholecystectomy
|
- pembersihan kantung empedu
|
-Cholecysteostomy(biasanya keadaan emergenci)
|
- irisan kedalam kantung empedu biasanya untuk pembersihan
batu-batu.
|
- Cholecocholithotomy
|
- irisan kedalam kantung empedu biasanya untuk pembersihan
batu-batu
|
- Cholecystogastrostomy
|
- anastomosis antara perut dan kantung empedu.
|
- Cholecystoduodenostomy
|
- anastomosis antara kantung empedu dan duodenum untuk
menggantikan gangguan pada akhir distal dari saluran empedu biasa.
|
- Endoscopic
|
- pembersihan kantung empedu lewat penggunaan laparoscopi
pemotongan sinar laser.
|
§ Pengobatan
Pengobatan yang sering di gunakan adalah Analgecic, anticholinergics
(anti plasmodeis), vitamin yang larut dalam lemak dan garam empedu.
- Narcotic analgesic untuk nyeri
; memperidine hydrochloride (elemerol) jika analgesic narkotik di butuhkan
untuk mengurangi kejang pada pembulu yang terkena racun di gunakan morphine
sulfate.
-
Amylnitrite and Nitroglyserin mungkin digunakan untuk
relax otot halus pada giliary tract.
Jika nitroglyserin diberikan perawat harus mengobservasikan efek
samingnya neusea, vomiting, kulit dan hypotension (status NPO dan NGT)
- Anticholinergics such, atropino
dan antispasmodics lainnya digunakan untuk relax pada otot halus dan kerusakan
pembuluh darah.
-
Papaverine digunakan efektif
untuk merelaksasikan otot halus observasi keperawatan untuk efek samping dari
obat dan skala nyeri harus diperhatikan. Jika pasien kronik cholelythiasis atau
bekas obstruksi biliary, fat soluble vitamin (A,D,E danK) mungkin diberikan :
A Cairan intravena untuk menggantikan cairan dan elektrolit.
A Antibiotik, jika terjadi infeksi
A Vitamin K jika jaundice dan prothrombine time didahulukan.
Pertimbangan:
Modifikasi pengaturan diit pada
klien dengan cholelytiasis adalah diit rendah garam. Jika obesitas merupakan
masalah, pengurangan/diit kalori adalah indikasinya. Diit rendah garam mencegah
kelebihan stimulus dari batu empedu. Hindari pemasukan makanan yang dihasilkan
oleh perusahaan susu, cream, mentega, keju susu dan makanan gorengan
seperti:kue kering, kacang-kacangan. Beberapa klien memiliki masalah jika
mereka makan dalam porsi besar dalam frekuensi sering.
Setelah pembedahan Gallblader,
pasien diberikan NPO selama 24-28 hari diit bermanfaat jika aliran empedu
berkurang atau jika pasien kegemukan.
ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian
Data subjektif.
Ø Riwayat masa lalu:
Riwayat keluarga, aktifitas,
obesitas, suku, multiparity (sering hamil) pembedahan abdomen sebelumnya,
cancer, sering berpuasa, pregnancy, diabetes, cirhosis.
Ø Pengobatan:
Menggunakan estrogen atau kontrasepsi oral
Ø Pengkajian umum:
Kehilangan berat badan, kedinginan, anorexia.
Ø Nyeri:
Nyeri hebat pada kuadran atas dan mungkin menyebar ke bagian
belakang skapula (biliari colic).
Ø Integumen :
Kulit gatal dan kering
Ø Gastrointestinal:
Tidak mampu mencerna, intoleransi terhadap lemak, nausea dan
vomiting, dyspepsia, pyrosis, darah membeku, perut kembung.
Ø Urinary:
Urine pekat atau gelap
Data Obyektif:
Ø Keadaan umum: Hati, gelisah
Ø Integumen: Jaundice, sklera ikterik
Ø Pernapasan: Tachypneu, membelat selama pernapasan
Ø Cardiovaskulaer: Tachycardia
Ø Gastrointestinal: Gambaran jelas batu empedu, distensi abdomen
Ø Penemuan yang mungkin ditemukan:
Peningkatan fungsi liver dan bilirubin, leukocytosis, penemuan
ultrasound abnormal abdomen, IV
cholangiogram.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan
|
Etiologi
|
Preoperasi
|
|
Potensial fluid volume deficit
|
Nausea dan vomiting, kurang intake;Lever
|
Potensial injuri: perdarahan
|
Mengurangi absorbsi vitamin K, dengan
hasil perdarahan
|
Kurang pengetahuan: sakit dan pengobatan
|
Kurang informasi sebelumnya
|
Nyeri
|
Peradangan pada kantung empedu dan
kejang pada saluran empedu
|
Kurang mampu merawat diri: berubah-ubah
|
Nyeri, demam, kelemahan
|
Post operasi
|
|
Tidak efektif pola napas
|
Insisi pembedahan, Distensi abdomen
|
Fatique
|
Prosedur pembedaahan, tidak diberi makan
sesudah pembedahan
|
Potensial Fluid volume deficit
|
Nausea, vomiting, sebelum pembedahan
perdarahan; kehilangan cairan.
|
Potensial injuri
|
Obstruction T tube sebelum pembedahan
atau obstruction saluran empedu dengan fragmen dari batu sesudah lithotripsi
|
Kurang pengetahuan; segera dibutuhkan
setelah pengobatan
|
Sebelumnya diberikan informasi
|
Potensial perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
|
Nausea, vomiting, setelah pengobatan
|
Nyeri
|
Insisi: kejang pada ductal associated
dengan obstruction dari T tube atau kista pada saluran empedu
|
Kerusakan integritas kulit
|
Insisi: potensial, pengaliran yang
lambat; potensial drainage mempengaruhi kulit .
|
Hasil yang diharapkan
Pre Operasi
1. Pasien akan menunjukan
perbaikan pada turgor kulit dan mucosa membran lembab dan menstabilkan intake
dan output.
2.
Pasien tidak mengalami
perdarahan.
3.
Pasien atau orang lain dapat:
a. Menjelaskan patofisiologi dan
bagaimana tanda dan gejala yang berhubungan dengan batu empedu.
b.
Menjelaskan tentang perencenaan
pengobatan dan mengharapkan keefektifitasnya
c.
Melukiskan yang dibutuhkan
sebelum dan setelah test diagnostik dan pengobatan.
4.
Pasien akan mengurangi nyeri
5.
Pasien akan memenuhi
kebutuhannya sendiri.
Post Operasi
1.
Pasien akan mempertahankan
bunyi napas bersih dan
2.
Pasien akan menampakkan fatigue
berangsur-angsur membaik dan kecepatan fatigue berkurang dalam 1-5 scala (1 =
tidak fatigue, 5 = sangat fatigue)
3.
Pasien akan mempertahankan
volume cairan pada batas normal dengan tanda-tanda berat stabil, mucosa membran
lembab, turgor kulit adekuat, dan keseimbangan intake dan out put.
4.
Pasien tidak akan mengalami
obstruksi dari T tube drainage; pasien akan melaporkan dengan segera apabila
kambuh kembali yaitu nyeri sekali, jaundice, nausea, vomiting dan demam.
5.
Pasien penting dapat menjelaskan
apabila membutuhkan perawatan segera, dapat melakukan aktifitas,
peraturan-peraturan diit, segera melaporkan tanda dan gejala dan perawatan
dengan segera.
6.
Pasien akan mengkonsumsi diit
yang seimbang dengan makanan yang berasal dari semua kelompok makanan dan
pembatasan garam jika pasien memiliki lithotripsy.
7.
Pasien akan tetap mampu
mengontrol nyeri; aktifitas pasien tidak akan terganggu dikarenakan nyeri.
8.
Pasien dengan insisi akan
sembuh tanpa komplikasi.
Implementasi
Preoperasi :
1.
Pasien mempelajari tentang
prosedur operasi.
2.
Pemberi terapi IV.
3.
Pasien harus berada pada posisi
pronasi selama prosedur pengobatan hal untuk memudahkan kita melihat kerusakan
pada kandung empedu, posisi ini untuk meningkatkan kenyemanan pasien.
4.
Menilai status hemodynamic-tekanan
darah, EKG, and pulse oximetry monitor parameter selama prosedur karena posisi
ini dapat mengganggu usaha pernapasan.
5.
Terapi oksigen mungkin
diberikan.
6.
Menentukan lokasi batu
menggunakan ultrasound.
7.
Sedative mungkin diberikan pada
pasien dengan nyeri, tidak nyaman atau cemas.
Postoperasi :
1.
Control nyeri (mungkin terjadi
biliary colic dengan reaksi normal dengan menghancurkan batu di dalam duodenum)
dengan dicyclomine HCE (bentyl) atau meperidine (demerol).
2.
Mempertahankan adekuatnya
intake dan out pout; diit rendah garam diberikan untuk mencegah nyeri. Naosea
dan vomiting terjadi setelah prosedur hematuria mungkin ditemukan hari ke 24
3.
Memonitor terjadinya demam,
jaundice, nyeri abdomen, nausea yang hebat atau vomiting.
4.
Ultrasound dan tes laboratorium
(lipase, amylase, bilirubin, creatinin, prothrombin time, partial
thromboplastin time, hemoglobin, hematocrit dan serum enzim) dalam 6 minggu, 3
bulan dan 6 bulan setelah prosedur.
Perawatan Preoperasi
1.
Mempertahankan hydrasi.
Beberapa pasien akan kehilangan cairan
karena nausea dan vomiting dan menaikan temperatur. Mereka membutuhkan cairan
IV dan membutuhkan monitoring secara teliti kecepatan pemasukan.
Pasien bereson terhadap hydrasi (berat
badan, intake dan output, mukosa membran lembab, dan turgor kulit)
2.
Mencegah Injuri
Jika jaundice, biasanya prothrombin pada
level rendah, persiapan phytonadione (vitamin K, mephyton) diberikan sebelum
pembedahan. Transfusi darah mungkin diberikan segera sebelum operasi untuk
menyediakan phytonadione perawat memonitor pasien dengan perdarahan (darah
dalam urine dan feses).
3.
Mengajarkan pasien; mengajarkan
pasien tentang tes diagnostik dan untuk mendorong pasien memahami tentang
pengobatan sampai dengan preoperasi dan perawatan post operasi.
Pemeriksaan umum yang boleh dilakukan yaitu sebelum pembedahan
biliary, pemeriksaan x-ray untuk batu empedu dan pemeriksaan urine dan feses.
4.
Meningkatkan kenyamanan.
Sebelum pembedahan perawat harus berfokus pada mempertahankan
kenyamanan. Analgesik mungkin diberikan sesuai perintah dan mengevaluasi
keefektifitasnya.
Pasien dengan NGT, kebersihan mulut, menghindari ketidaknyamanan
tidak diperbolehkan memasukan makanan melalui mulut, berbaring posisi ke
samping, massase punggung dan teknik relaksasi dan mungkin membantu untuk
meningkatkan kenyamanan.
5.
Promosi Kesehatan
Beberapa pasien dengan sakit akut dikarenakan demam dan dingin,
ketidakseimbangan cairan dan nyeri, mereka membutuhkan pertolongan perawatan
hygiene, toilet dan kebutuhan lainnya.
Perawat akan membantu pasien mengerti tentang kesehatan.
Perawatan Post Operasi
Perawatan post operasi berfokus pada
diagnosa keperawatan (potensial) berfokus pada tingkat kenyamanan,
mempertahankan status cairan dan elektrolit, deteksi komplikasi saluran
respiratory (obstruksi T-tube). Perawatan yang dibutuhakan setelah penurunan
fatique, menentukan diit promosi integritas kulit.
-
Perawatan segera
Untuk memperoleh kesadaran setelah
anastesi pasien ditempatkan pada posisi semi fowler. Posisi ini merupakan dasar
pengkajian nyeri dan berlangsung selama 42-72 jam. Pasien dipaksa untuk batuk
dan mengambil napas dalam secara teratur (anatar 1-2 jam) untuk mencegah
atelektasis. Pasien juga dibantu mengatur perubahan posisi. Jika menggunakan
NGT perlu disektion sebab elektrolit dan gas dihilangkan saat prosedur, penting
untuk mencatat bising usus.
-
Tingkat aktifitas
Pasien
dibolehkan turun dari tempat tidur sehari setelah operasi. Mengangkat yang
berat perlu dihindari.
-
Pertahankan T-tube drainase.
Drainase dilepas setelah 5-6 hari, drainase dicek terhadap warna dan
jumlah tiap dua jam /hari. Sebelum diangkat T-tube kaji aliran empedu lancar
atau belum.
Observasi terhadap peritonitis jika ada nyeri hebat.
-
Pendidikan waktu pulang
Mencegah pasien melakukan aktifitas yang berat, cegah angkat berat
dan diit
-
Tingkat nutrisi
Diit spesial selama post pembedahan, cegah lemak yang berlebihan.
-
Pertahankan integritas kulit
Tidak ada komentar:
Posting Komentar