TINJAUAN
TEORITIS
A.
Konsep Dasar Medik
1. Pengertian
Hernia adalah
merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian
lemah dari dinding rongga bersangkutan.
Hernia skrotalis adalah merupakan hernia
inguinalis lateralis karena keluar dari rongga peritonium melalui anulus
inguinalis internus yang terletak lateral dari pembuluh epigastrika inferior,
kemudian hernia masuk ke dalam kanalis inguinalis, dan jika cukup panjang,
menonjol keluar dari anulus inguinalis eksternus, apabila hernia ini berlanjut,
tonjolan akan sampai ke skrotum dan terjadi perlengketan, maka ini disebut
hernia skrotalis acreata.
Hernia inguinalis scrotalis adalah hernia yang melalui cincin
inguinalis dan turun ke kanalis pada sisi funikulus spermatikus pada bagian
anterior dan lateral, yang dapat mencapai scrotum, hernia ini disebut juga
hernia inguinalis indirect
2. Anatomi
Fisiologi
Pada laki-laki,
penutupan yang berhubungan dengan terjadinya hernia ini memerlukan pengetahuan
yang embriologis yang berhubungan dengan turunnya testis. Mula-mula testis
tumbuh sebagai suatu struktur di daerah ginjal dalam abdomen (retroperitoneal).
Selama masa pertumbuhan foetus, testis turun (descensis testis) dari
dinding belakang abdomen menuju skrotum.
Pada saat perpindahan
ini, tabung peritonium terbawa bersama testis sebagai suatu tube, yang melalui
kanalis inguinalis masuk ke dalam skrotum dan bagian distalnya tertinggal
sebagai suatu kantong tertutup (tunica vaginalis) di sekeliling testis,
sedangkan bagian proksimalnya yang berada dalam funiculus mengalami atrofi.
Penonjolan peritoneum ini dikenal sebagai processus vaginalis, dimana processus
vaginalis ini akan mengalami obliterasi sebelum lahir kecuali tunica vaginalis.
Jika processus vaginalis tetap ada akan didapat hubungan langsung antara cavum
peritoneum dengan skrotum, hal ini potensial dapat menyebabkan terjadinya
hernia inguinalis dan jika berlanjut sampai ke skrotum akan mengakibatkan
hernia skrotalis.
Hernia inguinalis lateralis keluar dari
anulus internus/lateralis, melalui kanalis inguinalis menuju ke anulus
eksternus/medialis, yang dapat menuju ke skrotum pada laki-laki dan ke labium
majus pada wanita. Bila sampai ke skrotum disebut hernia inguinalis lateralis
complet atau hernia skrotalis.
Benjolan berbentuk seperti botol (mempunyai
leher) yang keluar mulai dari anulus internus melalui kanalis inguinalis,
anulus eksternus kemudian masuk ke dalam skrotum.
3. Pembagian
hernia
a. Berdasarkan
terjadinya, hernia dibagi atas :
-
Hernia bawaan (kongenital).
-
Hernia dapatan (akuisita).
b. Berdasarkan
letaknya, hernia dibagi atas :
-
Hernia diafragma yaitu bagian proksimal
lambung bersama oesofagus pars abdominalis dengan sphincter cardiac masuk (herniasi)
lewat hiatus oesophagealis ke dalam thorax (sliding hernia). (M.A.
Henderso, Ilmu Bedah Untuk Perawat).
-
Hernia inguinal dibagi atas hernia inguinalis
direk (medialis) yaitu akibat peninggian tekanan intra abdomen kronik dan
kelemahan otot dinding di trigonum Hesselbach, dan hernia inguinalis indirek (lateralis)
yaitu penonjolan dari perut di lateral pembuluh epigastrika inferior dan keluar
melalui dua pintu dan saluran yaitu anulus dan kanalis inguinalis. (Wim De
Jong, R. Sjamsuhidajat, Buku Ajar Ilmu Bedah).
-
Hernia umbilikal yaitu penonjolan yang
mengandung isi rongga perut yang masuk melalui cincin umbilikus akibat
peninggian tekanan intra abdomen, hernia ini terdapat pada kira-kira 20% bayi.
-
Hernia femoralis yaitu peninggian tekanan
pintu anulus femoralis ke dalam kanalis femoralis yang berbentuk corong sejajar
dengan vena femoralis sepanjang kurang lebih 2 cm dan keluar pada fossa ovalis
di lipat paha.
c. Berdasarkan
sifatnya, hernia dibagi atas :
-
Hernia reponibel yaitu bila isi hernia dapat
keluar masuk, usus keluar jika berdiri atau mengedan dan masuk lagi jika
berbaring atau didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri atau obstruksi usus.
-
Hernia ireponibel yaitu bila isi kantong
hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga, ini biasanya disebabkan oleh
perlengketan isi kantong pada peritoneum kantong hernia, hernia ini disebut
hernia acreata. Bila terjepit oleh cincin hernia, disebut hernia inkarserata
atau hernia strangulata.
d. Berdasarkan
nama penemunya, seperti :
-
Hernia Richter yaitu hernia dimana hanya
sebagian dinding usus yang terjepit, ditemukan oleh Richter (1778) ini jarang
ditemukan.
-
Hernia Spieghel yaitu hernia interstisial
dengan atau tanpa isinya melalui fasia spieghel.
-
Hernia Petit yaitu hernia di daerah lumbo
sakral.
-
Hernia Littre yaitu hernia yang isinya
mengandung divertikulum Mechkeli.
e. Beberapa
hernia lain atau khusus, seperti :
-
Hernia skrotalis yaitu hernia inguinalis
lateralis yang isinya masuk ke skrotum secara lengkap, kadang ditemukan hernia
skrotalis sangat besar.
-
Hernia Obturatoria yaitu hernia melalui
foramen obturatorium.
-
Hernia Perinealis yaitu hernia yang menonjol
pada perineum melalui defek dasar panggul yang dapat terjadi secara primer pada
wanita multipasa, atau sekunder setelah operasi melalui perineum.
4. Faktor
penyebab terjadinya hernia skrotalis
a. Faktor
kongenital
Pada pria terdapat
suatu processus yang berasal dari peritoneum parietalis, yang dalam masa intra
uterin merupakan guide yang diperlukan dalam desenskus testikulorm, processus
ini seharusnya menutup. Bila testis tidak sampai ke skrotum, processus ini
tetap akan terbuka, atau bila penurunan baru terjadi 1 – 2 hari sebelum
kelahiran, processus ini belum sempat menutup dan pada waktu lahir masih tetap
terbuka.
b. Faktor
utama
Terjadi setelah
operasi sebagai akibat gangguan penyembuhan luka.
c. Faktor
umur dan jenis kelamin
Orang tua lebih
sering daripada anak muda, pria lebih banyak dari pada wanita.
d. Faktor
adipositas
Pada orang gemuk
jaringan lemaknya tebal tetapi dinding ototnya tipis sehingga mudah terjadi
hernia.
e. Faktor
kelemahan muskulo aponeurosis
Biasanya ditemukan
pada orang kurus.
f. Faktor
tekanan intra abdominal
Ditemukan pada
orang-orang dengan batuk yang kronis, juga pada penderita dengan kesulitan
miksi seperti hypertrofi prostat, gangguan defekasi, serta pada orang yang
sering mengangkat berat.
5. Gejala-gejala
a. Pada
orang dewasa
1.) Laki-laki
-
Benjolan di daerah inguinal dapat mencapai
skrotum.
-
Benjolan timbul bila berdiri atau mengejan
dan bila berdiri lama/mengejan kuat maka benjolan makin membesar.
-
Terasa nyeri bila terjadi incarserata dan
terasa kram apabila benjolannya besar.
2.) Wanita
-
Benjolan dapat mencapai labium majus.
b. Pada
anak-anak
Bila menangis, timbul
benjolan pada abdomen bagian bawah, dapat mencapai skrotum atau labium majus,
bila berbaring benjolan akan hilang karena isi kantong hernis masuk ke dalam
kavum abdomen.
6. Komplikasi
Komplikasi hernia
tergantung pada keadaan yang dialami oleh isi hernia. Isi hernia dapat tertahan dalam kantong
hernia pada hernia ireponibel ; ini dapat terjadi kalau isi hernia terlalu
besar atau terdiri dari omentum, organ ekstraperitoneal (hernia geser)
atau hernia acreata.
Pada
hernia skrotalis acreata terjadi perlengketan antara isi hernia dengan kantong
dengan kantong hernia sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali.
Hernia ini harus dibedakan dari hidrokel, testis yang teraba dapat dipakai
sebagai pegangan untuk membedakannnya.
7. Diagnosis
Gejala dan tanda
klinik hernia banyak ditentukan oleh keadaan isi hernia. Pada hernia reponibel
keluhan satu-satunya adalah benjolan dilipat paha yang muncul pada waktu
berdiri, batuk bersin, atau mengedan, dan menghilang setelah berbaring.
Tanda
klinik pada pemeriksaan fisik bergantung pada isi hernia. Apabila suatu hernia
skrotalis tidak dapat dikembalikan maka ini harus dibedakan dari lesi-lesi di
dalam skrotum. Apabila hernia dapat dikembalikan, akan menunjukkan sifat-sifat
suatu hernia indirek, dan setelah pulih biasa diikuti ke atas lewat kanalis
inguinalis ke anulus abdominalis internus.
8. Penatalaksanaan
Pengobatan
konservatif terbatas mulai tindakan melakukan reposisi. Dan pemakaian penyangga
atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi. Pada
kasus hernia skrotalis acreata, pengobatan konservatif atau melakukan reposisi
jarang berhasil apalagi sudah terjadi perlengketan, maka pengobatan operasi
merupakan satu-satunya pengobatan hernia skrotalis acreata. Indikasi operasi
sudah ada begitu diagnosis ditegakkan. Prinsip dasar operasi hernia terdiri
dari herniotomi dan hernioplastik. Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong
hernia sampai ke lehernya, kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlengketan,
kemudian direposisi. Kantong hernia dijahit ikat setinggi mungkin lalu
dipotong.
Pada
hernioplastik dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis internus dan
memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. (sumber BukuAjar Ilmu
Bedah, oleh R. Sjamsuhudajat dan Wim de Jong).
a.
Konservatif
Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan
melakukan reposisi dan pemakaian penyangga atau penunjang untuk
mempertahankan isi hernia yang telah direposisi.
b.
Reposisi
Reposisi tidak dilakukan pada hernia inguinalis strangulate, kecuali pada pasien anak-anak. reposisi dilakukan secara bimanual. Tangan kiri memegang isi hernia membentuk corong sedangkan tangan kanan mendorongnya kearah cincin hernia dengan tekanan lambat tapi menetap sampai terjadi reposisi. Pada anak-anak inkarserasi lebih sering terjadi pada umur dibawah dua tahun. Reposisi spontan lebih sering dan sebaliknya gangguan vitalitas isi hernia jarang terjadi jika dibandingkan dengan orang dewasa. Hal ini disebabkan oleh cincin hernia yang lebih elastis dibandingkan dengan orang dewasa.
Reposisi dilakukan dengan menidurkan anak dengan pemberian sedative dan kompres es diatas hernia. Bila usaha reposisi ini berhasil anak disiapkan untuk operasi pada hari berikutnya. Jika reposisi hernia tidak berhasil dalam waktu enam jam harus dilakukan operasi segera.
Reposisi tidak dilakukan pada hernia inguinalis strangulate, kecuali pada pasien anak-anak. reposisi dilakukan secara bimanual. Tangan kiri memegang isi hernia membentuk corong sedangkan tangan kanan mendorongnya kearah cincin hernia dengan tekanan lambat tapi menetap sampai terjadi reposisi. Pada anak-anak inkarserasi lebih sering terjadi pada umur dibawah dua tahun. Reposisi spontan lebih sering dan sebaliknya gangguan vitalitas isi hernia jarang terjadi jika dibandingkan dengan orang dewasa. Hal ini disebabkan oleh cincin hernia yang lebih elastis dibandingkan dengan orang dewasa.
Reposisi dilakukan dengan menidurkan anak dengan pemberian sedative dan kompres es diatas hernia. Bila usaha reposisi ini berhasil anak disiapkan untuk operasi pada hari berikutnya. Jika reposisi hernia tidak berhasil dalam waktu enam jam harus dilakukan operasi segera.
c.
Bantalan penyangga
Pemakaian bantalan penyangga hanya bertujuan menahan
hernia yang telah direposisi dan tidak pernah menyembuhkan sehingga harus
dipakai seumur hidup. Namun cara yang berumur lebih dari 4000 tahun ini masih
saja dipakai sampai sekarang.Sebaiknya cara ini tidak dinjurkan karena
mempunyai komplikasi, antara lain merusak kulit dan tonus otot dinding perut
didaerah yang tertekan sedangkan strangulasi tetap mengancam. Pada anak-anak
cara ini dapat menimbulkan atrofitestis karena tekanan pada taki sperma yang
mengandung pembuluh darah testis.
d.
Operatif
Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan
hernia inguinalis yang rasional. Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis
ditegakkan. Prinsip dasar operasi hernia terdiri dari herniotomi dan
hernioplasti
1)
Herniotomi
Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia
sampai kelehernya. Kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada
perlekatan, kemudian direposisi, kantong hernia dijahit-ikat setinggi mungkin
lalu dipotong.
2)
Hernioplasti
Pada hernioplasti dilakukan tindakan memperkecil
anulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis.
Hernioplasti lebih penting artinya dalam mencegah terjadinya residif dibandingkandenganherniotomi.
Dikenal berbagai metode hernioplastik seperti memperkecil anulus inguinalis
internus dangan jahitan terputus, menutupdan memperkuat fasia transversa, dan
menjahitkan pertemuan m. tranversus internus abdominis dan m. oblikus internus abdominis
yang dikenal dengan nama conjoint tendon ke ligamentum inguinale poupart
menurut metode Bassini, atau menjahitkan fasia tranversa m. transversus
abdominis, m.oblikus internus abdominis keligamentum cooper pada metode McVay
Bila defek cukup besar atau terjadi residif berulang diperlukan pemakaian bahan
sintesis seperti mersilene, prolene mesh atau marleks untuk menutup defek.
9. Persiapan
a.
Alat
Instrumen Instrumen Tambahan
-
Basic set : Ohak 2
buah
-
Bengkok 2 Benang cide
2/0, cromik 1, cide 2, cide 0.
-
Neckholder 2
-
Hak 1 buah
-
Klem arteri 10
-
Bisturi 22
-
Kom 2
-
Duk besar 2
-
Skapel 2
-
Duk lobang 2
-
Kooker 4
-
Handscone 3 pasang
-
Gunting jaringan 1
-
Klem usus 2
-
Gunting benang 1
-
Kasa 4 gulung
-
Pinset anatomis 2
-
Betadine alcohol 100
cc
-
Pinset srilugis 2
-
Jas operasi 3 buah
-
Cutter
-
Suction
-
Kanul suction
2. Pelaksanaan Asisten/Instrumen
Tindakan dan Peralatan yang
Digunakan :
a. Disinfektan, aseptik dan septik pada daerah operasi
Ring klem, betadin, kom 1 buah
b. Penutupan area operasi (draping)
a. Disinfektan, aseptik dan septik pada daerah operasi
Ring klem, betadin, kom 1 buah
b. Penutupan area operasi (draping)
Duk besar(2), duk
lubang(1), duk sedang (2), duk klem (5)
c. Insisi lokasi operasi
Messer
d. Mengkater pembuluh darah
d. Mengkater pembuluh darah
Cutter,
klem arteri
e. Mengedep perdarahan Kasa kering, klem arteri
f. Memisahkan jaringan Ohak dan hak kecil
g. insisi fasia
e. Mengedep perdarahan Kasa kering, klem arteri
f. Memisahkan jaringan Ohak dan hak kecil
g. insisi fasia
-
Messer, gunting mayo dan klem
h. Pengangkatan kantong hernia
-
pinset anatomis
-
klem (4)
-
gunting
i.
Penjahitan Kantong hernia
Hecting peritoneum/kantong hernia, Kocher, nidle hoder, jarum, silk nomor (0), gunting, klem arteri, kasa
j.
Penjahitan bassini
Silk 2/0, nidle hoder, jarum fasia, gunting mayo
Silk 2/0, nidle hoder, jarum fasia, gunting mayo
k.
Heating otot Cooker,
neckholder, jarum, plan (2/0), gunting, klem arteri, kasa
l.
Heating fasia Cooker, neckholder,jarum,
polysorb, gunting, klem arteri. Kasa
m. Heating subcutis Cooker, neckholder, jarum, plan
(2/0), gunting, klem, kasa
n.
Heting kulit Cooker,
neckholder, jarum, cide (2/0). Gunting, klem, kasa
o. Disinveksi araea jahitan Betadine, kasa, kom
p. Penutupan area operasi Kasa kering 2, kasa+betadine 2,
hepafix
q. Merapihkan alat dan melepas duk
r.
Memindahkan pasien
Duk sedang, bed
B. Konsep
Dasar Asuhan Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah suatu pemecahan
masalah yang dinamis dalam usaha memperbaiki atau memelihara klien sampai ke
taraf optimum, melalui pendekatan yang sistematis untuk mengenal dan membantu
klien untuk memenuhi kebutuhannya (sinopsis dasar-dasar keperawatan).
Pelaksanaan asuhan keperawatan ini melalui pendekatan proses keperawatan yang
terdiri dari empat tahap :
1. Pengkajian.
2. Perencanaan.
3. Pelaksanaan.
4. Evaluasi.
Yang masing-masing saling berkesinambungan
dan berkaitan satu sama lain.
- Pengkajian
Pengkajian
adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya
sehingga dapat diketahui kebutuhan perawatan klien tersebut.
Pengkajian meliputi :
- Pengumpulan
data.
- Klasifikasi
data.
- Analisa
data.
- Penentuan
diagnosa.
a. Pengumpulan
data.
Merupakan
kegiatan yang dilakukan untuk menggali data dari berbagai sumber yang mendukung
dan mempengaruhi timbulnya masalah. Sumber data tersebut berasal dari klien,
keluarga, perawat, dan tim kesehatan lainnya, status serta pemeriksaan
laboratorium dan radiologi.
Metode pengumpulan data :
-
Identitas pasien : nama, umur, jenis kelamin,
status perkawinan, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, dan
alamat.
-
Identitas penanggung : nama, umur, jenis
kelamin, status perkawinan, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, alamat,
hubungan keluarga.
-
Riwayat kesehatan, antara lain : meliputi
riwayat masa lalu dan riwayat kesehatan masa lalu dan riwayat kesehatan
sekarang yang menyebabkan klien datang berobat ke rumah sakti, misalnya adanya
keluhan nyeri pada perut bagian bawah, nyeri bertambah bila melakukan
aktivitas, dan nyeri bertambah bila melakukan aktivitas, dan adanya benjolan
besar pada daerah skrotum.
-
Riwayat kesehatan keluarga, mencakup di
dalamnya genogram tiga generasi dan riwayat kesehatan anggota keluarga.
-
Pemeriksaan fisik
Data pokok yang perlu dikaji pada klien post
operasi Giant Hernia Skrotalis Acreata Dextra adalah meliputi :
PemeriksaanFisik
Daerah inguinalis pertama-tama diperiksa dengan inspeksi , sering benjolan muncul dalam lipat paha dan terlihat cukup jelas. Kemudian jari telunjuk diletakkan disisi lateral kulit skrotum dan dimasukkan sepanjang funikulus spermatikus sampai ujung jari tengah mencapai annulus inguinalis profundus. Suatu kantong yang diperjelas dengan batuk biasanya dapat diraba pada titik ini. Jika jari tangan tak dapat melewati annulus inguinalis profundus karena adanya massa, maka umumnya diindikasikan adanya hernia.Hernia juga diindikasikan, bila seseorang meraba jaringan yang bergerak turun kedalam kanalis inguinalis sepanjang jari tangan pemeriksa selama batuk.
Walaupun tanda-tanda yang menunjukkan apakah hernia itu indirek atau direk, namun umumnya hanya sedikit kegunaannya, karena keduanya biasanya memerlukan penatalaksanaan bedah, dan diagnosis anatomi yang tepat hanya dapat dibuat pada waktu operasi. Gambaran yang menyokong adanya hernia indirek mencakup turunnya kedalam skrotum, yang sering ditemukan dalam hernia indirek, tetapi tak lazim dalam hernia direk. Hernia direk lebih cenderung timbul sebagai massa yang terletak pada annulus inguinalis superfisialis dan massa ini biasanya dapat direposisi kedalam kavitas peritonealis, terutama jika pasien dalam posisi terbaring. Pada umumnya pada jari tangan pemeriksa didalam kanalis inguinalis, maka hernia inguinalis indirek maju menuruni kanalis pada samping jari tangan, sedangkan penonjolan yang langsung keujung jari tangan adalah khas dari hernia direk.
Daerah inguinalis pertama-tama diperiksa dengan inspeksi , sering benjolan muncul dalam lipat paha dan terlihat cukup jelas. Kemudian jari telunjuk diletakkan disisi lateral kulit skrotum dan dimasukkan sepanjang funikulus spermatikus sampai ujung jari tengah mencapai annulus inguinalis profundus. Suatu kantong yang diperjelas dengan batuk biasanya dapat diraba pada titik ini. Jika jari tangan tak dapat melewati annulus inguinalis profundus karena adanya massa, maka umumnya diindikasikan adanya hernia.Hernia juga diindikasikan, bila seseorang meraba jaringan yang bergerak turun kedalam kanalis inguinalis sepanjang jari tangan pemeriksa selama batuk.
Walaupun tanda-tanda yang menunjukkan apakah hernia itu indirek atau direk, namun umumnya hanya sedikit kegunaannya, karena keduanya biasanya memerlukan penatalaksanaan bedah, dan diagnosis anatomi yang tepat hanya dapat dibuat pada waktu operasi. Gambaran yang menyokong adanya hernia indirek mencakup turunnya kedalam skrotum, yang sering ditemukan dalam hernia indirek, tetapi tak lazim dalam hernia direk. Hernia direk lebih cenderung timbul sebagai massa yang terletak pada annulus inguinalis superfisialis dan massa ini biasanya dapat direposisi kedalam kavitas peritonealis, terutama jika pasien dalam posisi terbaring. Pada umumnya pada jari tangan pemeriksa didalam kanalis inguinalis, maka hernia inguinalis indirek maju menuruni kanalis pada samping jari tangan, sedangkan penonjolan yang langsung keujung jari tangan adalah khas dari hernia direk.
*
Status fisik
Pasien yang baru selesai operasi, mungkin BB
belum sepenuhnya terbebas dari pengaruh obat bius sehingga dapat timbul
masalah-masalah seperti : kesadaran yang belum pulih, keadaan umum yang belum
membaik, tanda-tanda vital belum stabil.
*
Status pernafasan.
Pada pasien post operasi dapat mengalami
gangguan pernafasan sebagai efek dari obat anastesi dan tindakan pembedahan itu
sendiri.
*
Sirkulasi darah.
Sebagai efek dari obat anastesi, sering
keadaan sirkulasi darah terganggu seperti terjadinya penurunan tekanan darah.
*
Rasa aman dan nyaman.
Adanya bekas luka operasi menyebabkan nyeri dan
klien belum mandi selama dua hari sehingga menimbulkan perasaan kurang aman dan
nyaman.
*
Keadaan aktivitas dan gerak.
Pasien biasa mengalami gangguan aktivitas dan
gerak akibat adanya rasa nyeri pada luba post operasi.
*
Keadaan cairan dan nutrisi.
Dengan adanya keluhan kurang nafsu makan,
dapat mempengaruhi kebutuhan cairan dan nutrisi pasien.
b. Klasifikasi
data
Setelah data
dikumpulkan, maka data itu dikelompokkan menjadi dua yaitu data subjektif dan
data objektif.
*
Data subjektif :
-
Klien mengeluh nyeri pada luka post operasi.
-
Klien mengeluh terasa lemah seluruh badan.
-
Klien mengeluh aktivitasnya terbatas.
-
Klien mengatakan kebutuhan sehari-hari
dilayani di tempat tidur.
-
Klien mengeluh nafsu makan kurang.
-
Klien mengatakan belum mandi sudah dua hari.
*
Data objektif :
-
Nampak luka operasi pada abdomen yang dibalut
verband.
-
Nampak terpasang infus RL, 28 x tts/menit
pada ekstremitas kanan bagian bawah.
-
Nyeri tekan pada luka operasi.
-
Nampak klien lemah.
-
Nampak klien batuk.
-
Ekspresi wajah meringis bila datang nyeri.
-
Sklera nampak ikterus.
-
Konjungtiva nampak pucat.
-
Bibir nampak pecah-pecah dan lidah kotor.
-
Badan klien nampak kotor dan kusam.
-
Tanda-tanda vital :
Tekanan darah : 130/90
mmHg.
Nadi : 88 x/menit.
Pernafasan : 24
x/menit.
Suhu : 36,5 0C
c. Analisa
data
Dengan melihat data
subjektif dan data objektif dapat menentukan permasalahn yang dihadapi klien
dan dengan memperhatikan masalah dapat diketahui penyebab sampai pada efek
masalah tersebut. Dari analisa data inilah dapat ditentukan diagnosa
keperawatan yang muncul.
d. Masalah
Masalah yang muncul
pada klien dengan Hernia Skrotal Acroata Dextra adalah :
-
Nyeri.
-
Gangguan aktivitas.
-
Resiko infeksi.
-
Gangguan pemenuhan nutrisi.
-
Defisit perawatan diri kurang.
e. Diagnosa
keperawatan
Berdasarkan dengan
keadaan yang mungkin terjadi pada klien dengan post operasi hernia skrotalis
acreata seperti yang telah diuraikan pada bagian masalah maka dapat ditegakkan
diagnosa keperawatan yang dapat muncul adalah :
1.) Nyeri
berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan akibat tindakan operasi,
ditandai dengan :
Data subjektif :
-
Klien mengeluh nyeri pada luka operasi.
Data objektif :
-
Nampak luka operasi pada abdomen yang dibalut
verband.
-
Ekspresi wajah meringis bila datang nyeri.
-
Nyeri tekan pada luka operasi.
-
Nampak klien batuk.
-
Tanda-tanda vital :
Tekanan darah : 130/90
mmHg.
Nadi : 88 x/menit.
Pernafasan : 24
x/menit.
Suhu : 36,5 0C
2.) Gangguan
aktivitas fisik berhubungan dengan adanya luka operasi dan kelemahan fisik,
ditandai dengan :
Data subjektif :
-
Klien mengeluh terasa lemah seluruh badan.
-
Klien mengatakan aktivitasnya terbatas.
-
Klien mengatakan kebutuhan sehari-hari
dilayani di tempat tidur.
Data objektif :
-
Nampak klien lemah.
-
Aktivitas terbatas.
-
Nampak kebutuhan sehari-hari dilayani di
tempat tidur.
3.) Resiko
infeksi berhubungan dengan adanya luka operasi, ditandai dengan :
Data subjektif : -
Data objektif
:
-
Nampak luka operasi pada abdomen yang dibalut
verband.
-
Nampak terpasang infus RL 28 tts/menit pada
ekstremitas kanan bagian bawah.
-
Nyeri tekan pada luka operasi.
4.) Gangguan
pemenuhan nutrisi berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, ditandai dengan
:
Data subjektif :
-
Klien mengeluh nafsu makan kurang.
Data objektfif :
-
Klien nampak lemah.
-
Sklera nampak ikterus.
-
Konjungtiva nampak pucat.
-
HB 13,8 gram/dl.
5.) Defisit
perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik, ditandai dengan :
Data subjektif :
-
Klien mengatakan belum mandi sudah dua hari.
Data objektif :
-
Badan klien nampak kotor dan kusam.
-
Bibir nampak pecah-pecah dan lidah kotor.
- Perencanaan
Dalam perencanaan ini meliputi tujuan, kriteria
evaluasi, rencana tindakan dan rasional tindakan. Adapun rencana tindakan
keperawatan pada klien dengan post operasi giant hernia skrotalis acreata
adalah sebagai berikut :
a. Nyeri
berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan akibat tindakan operasi.
Tujuan : Nyeri
dapat berkurang
Kriteria : Klien
mengungkapkan nyeri berkurang dan ekspresi wajah normal.
Intervensi :
1.) Kaji
karakteristik nyeri.
Rasional : Mengetahui
tingkat nyeri yang dirasakan oleh klien sebagai acuan untuk intervensi
selanjutnya.
2.) Ukur
tanda-tanda vital.
Rasional : Mengetahui
kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan.
3.) Ajarkan
tehnik relaksasi.
Rasional : Untuk
merelaksasi otot sehingga mengurangi rasa nyeri.
4.) Ajarkan
nafas dalam dan batuk yang efektif.
Rasional : Dengan
nafas dalam dan batuk yang efektif dapat mengurangi tekanan darah pada abdomen
yang dapat menimbulkan rangsangan nyeri.
5.) Penatalaksanaan
pemberian obat analgetik.
Rasional : Obat
analgetik dapat mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri.
b. Gangguan
aktivitas fisik berhubungan dengan adanya luka operasi dan kelemahan fisik.
Tujaun : Aktivitas
fisik dapat terpenuhi.
Kriteria : Klien
tidak mengeluh lagi lemah seluruh badan dan kebutuhan sehari-hari dapat
terpenuhi sebagian.
Intervensi :
1.) Kaji
tingkat aktivitas.
Rasional : Mengetahui
tingkat kemampuan dalam memenuhi kebutuhan ADL sebagai pedoman untuk intervensi
selanjutnya.
2.) Dekatkan
kebutuhan yang dibutuhkan oleh klien.
Rasional : Memudahkan
klien untuk melakukan aktivtas sehari-hari secara mandiri.
3.) Beri
kesempatan klien untuk melakukan aktivitas mandiri.
Rasional : Untuk
mengetahui kemajuan yang dirasakan oleh klien selama dirawat.
4.) Bantu
ambulasi secara bertahap.
Rasional : Ambulasi
yang tidak bertahap dapat menyebabkan kelelahan dan ambulasi bertahap dapat
mencegah terjadinya resiko cedera.
5.) Libatkan
keluarga dalam perawatan mobilitas fisik.
Rasional : Partisipasi
keluarga dalam membantu pasien dalam memenuhi kebutuhan mobilitasnya.
c. Resiko
infeksi berhubungan dengan adanya luka operasi.
Tujuan : Resiko
infeksi tidak terjadi.
Kriteria : Luka
sembuh dengan baik, verband tidak basah dan tidak ada tanda-tanda infeksi
(kalor, dolor, rubor, tumor).
Intervensi :
1.) Kaji
tanda-tanda infeksi dan vital sign.
Rasional : Mengetahui
tanda-tanda infeksi dan menentukan intervensi selanjutnya.
2.) Gunakan
tehnik septik dan antiseptik.
Rasional : Dapat
mencegah terjadinya kontaminasi dengan kuman penyebab infeksi.
3.) Ganti
verband.
Rasional : Verband
yang basah dan kotor dapat menjadi tempat berkembang biaknya kuman penyebab
infeksi.
4.) Berikan
penyuluhan tentang cara pencegahan infeksi.
Rasional : Memberikan
pengertian kepada klien agar dapat mengetahui tentang perawatan luka.
5.) Penatalaksanaan
pemberian obat antibiotik.
Rasional : Obat
antibiotik dapat membunuh kuman penyebab infeksi.
d. Gangguan
pemenuhan nutrisi berhubungan dengan intake yang tidak adekuat.
Tujuan : Nutrisi
klien dapat terpenuhi.
Kriteria : Klien
mengungkapkan nafsu makan baik, badan tidak lemah, dan HB normal.
Intervensi :
1.) Kaji
intake dan out put klien.
Rasional : Untuk
mengetahui kebutuhan nutrisi dan merupakan asupan dalam tindakan selanjutnya.
2.) Anjurkan
klien untuk makan dalam porsi kecil tapi sering.
Rasional : Dapat
mengurangi rasa kebosanan dan memenuhi kebutuhan sedikit demi sedikit.
3.) Anjurkan
klien untuk menjaga kebersihan mulut dan gigi.
Rasional : Agar
menambah nafsu pada waktu makan.
4.) Anjurkan
untuk banyak makan sayuran yang berwarna hijau.
Rasional : Sayuran
berwarna hijau banyak mengandung zat besi penambah tenaga.
5.) Libatkan
keluarga dalam memenuhi nutrisi klien.
Rasional : Partisipasi
keluarga dapat meningkatkan asupan nutrisi untuk kebutuhan energi.
e. Defisit
perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik.
Tujuan : Personal
hygiene dapat terpenuhi.
Kriteria : Klien
dapat mandi sendiri dan akhirnya badan klien nampak bersih dan tidak kusam.
Intervensi :
1.) Kaji
kemampuan merawat diri klien.
Rasional : Mengetahui
sejauh mana kemampuan klien merawat diri sebagai pedoman melakukan intervensi
selanjutnya.
2.) Dekatkan
kebutuhan yang dibutuhkan/diperlukan.
Rasional : Memudahkan
pasien melakukan perawatan diri sendiri.
3.) Berikan
kesempatan untuk melakukan perawatan mandiri.
Rasional : Melatih
pasien agar dapat melakukan perawatan dirinya sendiri.
4.) Mandikan
pasien di tempat tidur.
Rasional : Memberikan
perasaan nyaman dan segar pada diri klien.
5.) Berikan
bedah setelah mandi, pakaikan baju bersih, sisir rambut dan gunting kuku jika
panjang.
Rasional : Memberikan
kesegaran pada diri pasien dan mencegah terjadinya iritasi pada kulit.
6.) Libatkan
keluarga dalam merawat pemenuhan ADL klien.
Rasional : Dengan
melibatkan keluarga klien merasa diperhatikan oleh keluarganya.
- Implementasi
Implementasi adalah merupakan pengelolaan dan
perwujudan dari rencana perawatan yang telah ditentukan atau dibentuk. Dalam
perwujudan dan rencana perawat implementasi dapat dilakukan atau dilaksanakan
oleh :
Perawat
implementasi dapat dilakukan atau dilaksanakan oleh :
a. Yang
menyusun rencana perawatan.
b. Atau
dapat didelegasikan kepada perawat lain yang dipercaya untuk melaksanakan
tindakan perawatan.
- Evaluasi
Dalam melakukan evaluasi, sesuai dengan waktu
dan target yang telah ditentukan dalam tujuan. Sambil memberikan asuhan
keperawatan, perawat terus menerus mengumpulkan data baru dari klien yang nanti
akan digunakan untuk bahan evaluasi pencapaian tujuan, maka perawat melihat
kembali pada pernyataan tujuan dalam rencana keperawatan yang telah ditetapkan.
a. Prilaku
klien yang bagaimanakah yang dinyatakan dalam tujuan.
b. Adakah
klien itu dapat menunjukkan perubahan prilaku yang diharapkan dalam pernyataan
tujuan.
Untuk dapat melihat bahwa tujuan itu
tercapai, sebagian tercapai dan tidak tercapai, dapat dibuktikan dari prilaku
klien.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar